Jreng jreng jreng!
Ketika itu Mr.F menghilang dari pandangan saya. Ia
tak lagi mengirim pesan pada saya, tidak lagi menelpon dan tidak pula
berkunjung ke rumah saya. Suatu hari ia akhirnya datang ke kampus. Ketika itu
perasaan saya tidak karuan, senang bercampur marah. Senang karena akhirnya saya
bisa melihatnya, dan marah karena ia telah menghilang beberapa saat dari saya.
Mr.F tidak
memberi penjelasan apa-apa kepada saya dan saya pun tak meminta penjelasan darinya.
Hingga akhirnya Mr.G yang berusaha menyatukan
kami menyampaikan kepada saya, bahwa Mr F telah kerampokan. Oleh karenanya
telepon genggam Mr.F hilang dan ia tidak lagi bisa menghubungi saya. Dan alasan
mengapa Mr.F beberapa saat tidak kuliah adalah karena ia sakit. Maka semakin lengkaplah perasaan bersalah saya
ketika itu. Seharusnya saat itu saya bisa ada untuk Mr.F. Namun karena rasa
gengsi yang saya miliki, sedikitpun saya tidak memberi perhatian padanya.
Waktu berlalu
begitu cepat, kini kami telah melewati 2 tahap pengkaderan, yaitu tahap winslow
kecil dan bias. Selama masa itu, kami layaknya kutub magnet yang sejenis, sangat jarang berbicara satu sama lain bahkan
bersikap seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa diantara kami. Dikelas, kami
saling diam. Walau ia seringkali menggoda teman dekat saya dan berada disekitar
saya, namun entah kenapa kami tak sedikitpun bergeming dari dinginnya hubungan
kami.
Hingga hari
itu tiba. Tidak ada angin tidak ada hujan, kami menjadi dekat kembali. Ia
kembali lembut dan perhatian pada saya, dan kali ini saya mulai merespon baik
niatnya itu. Suatu hari dalam percakapan melalui pesan pendek, kami saling
menanyakan keberadaan kami masing-masing. Ketika itu saya ingin pulang ke rumah
(oh iya, ketika itu saya ngontrak disekitar kampus). Saya ingin pulang sekedar
untuk membawa cucian kotor kerumah. Dalam pesan pendek, dia berjanji akan menjemput
saya dan mengantar saya kembali ke kontrakan. Saya pun menyambut baik niatnya
itu. Selain karena saya ingin, saya juga butuh :D
Jam menunjukkan
pukul 9 ketika ia menjemput saya di rumah. Ketika ia datang, saat itu ibu saya
ada dirumah. Karena saya masih harus menyiapkan beberapa hal lagi, saya meminta
ibu saya untuk mengajak Mr.F masuk dan menunggu didalam rumah. Tahukah? Pada
awalnya Mr.F segan untuk masuk, mungkin ia malu pada ibu saya. Namun pada
akhirnya, ia masuk dan sedikit berbincang dengan ibu saya. Tak lama kemudian kami pun berangkat. Ditengah
jalan, kami terhadang hujan. Kami sempat memutuskan untuk berteduh, namun
karena hujannya tidak terlalu deras ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan
kami. Hujan kecil dalam waktu yang cukup lama ternyata membuat kami basah
ketika kami sampai ke kontrakan saya. Saya mengajaknya masuk dan membuatkannya
teh hangat, meski katanya ia tak suka teh. Ketika itu rasanya kami sangat dekat
dan sejujurnya saya bahagia.
Setelah hari
itu, komunikasi antara saya dan mr.F kembali terhambat. Hingga suatu hari saya
memutuskan untuk mengikuti basic training HMI. Saat itu saya meminta teman saya
mengajak Mr.F tapi ia ternyata menolak. 3 hari 2 malam, saya dan enam teman
lainnya mengikuti bastra. Ketika bastra, saya dan Mr.F saling berkomunikasi.
Bahkan ia ingin menjemput saya untuk pulang bila saya memintanya saat itu juga.
Namun saya menolak tawarannya tsb.
Beberapa hari
kemudian, saya dan enam orang teman saya dikabarkan akan mendapat hukuman
karena mengikuti bastra tsb. Seseorang yang menganjurkan saya mengikuti bastra,
seseorang yang menghukum saya, dan seseorang yang menyatakan cintanya pada saya
ditengah-tengah kekalutan hubungan saya dengan Mr.F, seseorang itu adalah
senior yang sangat dihormati, sebut saja Mr.FK.
Dialah yang berwenang memberi hukuman pada kami. Dan untuk melindungi sang
presiden, akhirnya kami dihukum menginap selama 7 malam di kampus -_____-
Tidak
disangka-sangka 7 malam itu mengubah hidup saya dan enam teman saya. Kami mulai
akrab dan dikenal oleh senior. Namun sebagai konsekuensinya, karena di kampus
kami sinyal sangat jelek, komunikasi
saya dengan Mr.F akhirnya berhenti. Hari berlalu begitu cepat, pengkaderan
tahap 3 pun selesai. Ketika itu saya telah berpaling dari Mr.F. Bahkan ketika
latihan inaugurasi, saya pernah bersikap sangat cuek padanya, padahal ketika
itu ia bersikap lembut pada saya. Saya rasa inilah tahap dimana Mr.F mulai
berpaling dari saya.
Berbulan-bulan
telah terlewati. Saya dan Mr.F mempunyai rentetan kisah kami masing-masing.
Namun kisah tentang hubungan kami berdua tidak sampai disini. Ketika bulan Juni
2012, kami kembali, saling menyapa dan saling bertanya. Kedekatan kami terjalin
lagi.
Saya rasa
inilah klimaks dari kisah saya dan Mr.F. Secara terang-terangan saya menanyakan
perasaa Mr.F kepada saya dan alasan mengapa dulu ia tiba-tiba menghilang dan
menjauh dari saya. Dan dia menjawab. Baginya, saya tidak merespon baik
pendekatan yang ia lakukan. Mr.F lalu menanyakan perasaan saya padanya. Secara
jujur saya menjawab bahwa benar dulu saya menyukainya namun sekarang saya tidak
tahu apa perasaan saya padanya. Jujur atau bohongkah saya saat itu? hingga kini
saya tak tahu pasti.
Mr.F lalu
menyampaikan kepada saya sesuatu hal, bahwa ia tidak cukup baik untuk saya dan
meminta saya untuk mencari yang lebih baik. Seketika itu pula saya tersadar,
mungkinkah ini cara halus yang Mr.F lakukan untuk menyampaikan bahwa ia tidak
lagi menginginkan saya? Oleh karenanya, saya berkata pada Mr.F bahwa saya akan melepaskannya. Namun tidak
disangka-sangka, ia malah berbalik mempertanyakan keputusan saya untuk
melepasnya. Bukahkah itu yang ia mau? Atau saya yang salah mengartikan
maksudnya?
Memasuki
bulan ramadhan, untuk pertama kalinya kami saling bertemu setelah pengakuan
kami masing-masing. Dan saya rasa kali ini hubungan kami semakin dingin. Hingga
tiba suatu hari dimana kami menjalin perbincangan yang hangat memalui pesan
pendek. Berawal dari basa-basi dan candaan, ia mengajak saya berkunjung ke
rumahnya. Sesuatu terjadi disana, entah itu kesalahan atau kesalahpahaman. Meski
ia sudah memohon maaf, dan saya telah memaafkannya. Namun sungguh saya belum
bisa melupakan hal tsb. Inilah awal dimana tembok besar muncul dan membatasi
kami. Bahkan ketika saya begitu
merindukan Mr.F seketika tembok ini
mampu meruntuhkan kerinduan saya.
15 Februari 2013
Hari ini hari
yang baik kah? Atau malah sebaliknya?
Saya mulai melangkahkan
kaki memasuki kampus dengan perasaan yang ringan. Walau beban untuk
menyelesaikan tugas masih ada dipundak.
Ketika sedang
mengerjakan tugas di ruang telamatika FKM, saya bertemu dengannya. Bertemu
Mr.F. Bahkan kami berada dalam jarak yang sangat dekat. Walaupun jarak kami
dekat, tapi perasaan kami tidak. Bahkan dengan jarak yang sedekat itu, kami tak
saling menyapa. Entah apa yang dipikirkannya tentang saya. Tapi bagi saya, itu
cukup membuat hati saya bergetar.
Masihkah
perasaan itu ada? Saya tak tahu. Mungkin yang tertinggal kini hanya penasaran
dan ambisi tentangnya. Karena saya tidak mendapatkan apa yang dulu seharusnya
saya dapatkan.
Sesaat
berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 3. Itu berarti sudah saatnya kuliah PBL.
Dikelas PBL seorang teman memberitahu saya beberapa hal. Dan tahukah? Salah
satunya mengenai Mr. F. Mr.F dicurigai sedang menjalin hubungan dengan salah
satu teman kami. Ketika mendengar itu sejujurnya saya seperti tercekik. Bukan
karena saya masih mengharapkan dia, hanya saja... entahlah, saya tak tahu
perasaan saya saat itu. Tapi satu hal, kejadian itu menyadarkan saya bahwa Mr.F
memang sudah berlalu.
Tidak ada
lagi yang harus diharapkan darinya. Saya sudah menebus kesalahan saya yang
dulu. Dan terlebih lagi, ada tembok besar yang membatasi kami. Tembok yang entah
merupakan kesalahan atau kesalahpahaman diantara kami. Oke, INI SUDAH BERAKHIR
atau memang HARUS DIAKHIRI.
Saya putuskan
untuk menutup dan menyelesaikan kisah ini. Meski sejujurnya saat ini hati saya tak
sejalan dengan pikiran saya, tapi tidak ada jalan lain bagi kami. Yang tersisa
kini hanya penyesalan dan pelajaran yang sangat bermakna. Bahwa jika engkau
menyayangi seseorang perlakukanlah ia dengan baik. Seperti kata pepatah, bahwa
sesuatu baru akan terasa sangat berharga ketika kita sudah kehilangannya. Dan
saya rasa, kesempatan kami, saya dan Mr.F telah hilang. Waktu kami yang telah
berlalu sampai kapanpun tidak dapat dikembalikan. Meski jalan didepan sana
tidak ada yang tahu, akankah masih ada pintu untuk kami? Who knows? Just let it
flow ^^






0 komentar:
Posting Komentar