Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Ketika lisan tak mampu lagi menjelaskan segala rasa maka aku memilih tulisan untuk menjewantahkan segalanya...

MR.F (Part 3- END)




Jreng jreng jreng!

                Ketika itu Mr.F menghilang dari pandangan saya. Ia tak lagi mengirim pesan pada saya, tidak lagi menelpon dan tidak pula berkunjung ke rumah saya. Suatu hari ia akhirnya datang ke kampus. Ketika itu perasaan saya tidak karuan, senang bercampur marah. Senang karena akhirnya saya bisa melihatnya, dan marah karena ia telah menghilang beberapa saat dari saya.
                Mr.F tidak memberi penjelasan apa-apa kepada saya dan saya pun tak meminta penjelasan darinya. Hingga akhirnya Mr.G yang berusaha menyatukan kami menyampaikan kepada saya, bahwa Mr F telah kerampokan. Oleh karenanya telepon genggam Mr.F hilang dan ia tidak lagi bisa menghubungi saya. Dan alasan mengapa Mr.F beberapa saat tidak kuliah adalah karena ia sakit. Maka  semakin lengkaplah perasaan bersalah saya ketika itu. Seharusnya saat itu saya bisa ada untuk Mr.F. Namun karena rasa gengsi yang saya miliki, sedikitpun saya tidak memberi perhatian padanya.
                Waktu berlalu begitu cepat, kini kami telah melewati 2 tahap pengkaderan, yaitu tahap winslow kecil dan bias. Selama masa itu, kami layaknya kutub magnet yang sejenis,  sangat jarang berbicara satu sama lain bahkan bersikap seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa diantara kami. Dikelas, kami saling diam. Walau ia seringkali menggoda teman dekat saya dan berada disekitar saya, namun entah kenapa kami tak sedikitpun bergeming dari dinginnya hubungan kami.
                Hingga hari itu tiba. Tidak ada angin tidak ada hujan, kami menjadi dekat kembali. Ia kembali lembut dan perhatian pada saya, dan kali ini saya mulai merespon baik niatnya itu. Suatu hari dalam percakapan melalui pesan pendek, kami saling menanyakan keberadaan kami masing-masing. Ketika itu saya ingin pulang ke rumah (oh iya, ketika itu saya ngontrak disekitar kampus). Saya ingin pulang sekedar untuk membawa cucian kotor kerumah. Dalam pesan pendek, dia berjanji akan menjemput saya dan mengantar saya kembali ke kontrakan. Saya pun menyambut baik niatnya itu. Selain karena saya ingin, saya juga butuh :D
                Jam menunjukkan pukul 9 ketika ia menjemput saya di rumah. Ketika ia datang, saat itu ibu saya ada dirumah. Karena saya masih harus menyiapkan beberapa hal lagi, saya meminta ibu saya untuk mengajak Mr.F masuk dan menunggu didalam rumah. Tahukah? Pada awalnya Mr.F segan untuk masuk, mungkin ia malu pada ibu saya. Namun pada akhirnya, ia masuk dan sedikit berbincang dengan ibu saya.  Tak lama kemudian kami pun berangkat. Ditengah jalan, kami terhadang hujan. Kami sempat memutuskan untuk berteduh, namun karena hujannya tidak terlalu deras ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami. Hujan kecil dalam waktu yang cukup lama ternyata membuat kami basah ketika kami sampai ke kontrakan saya. Saya mengajaknya masuk dan membuatkannya teh hangat, meski katanya ia tak suka teh. Ketika itu rasanya kami sangat dekat dan sejujurnya saya bahagia.
                Setelah hari itu, komunikasi antara saya dan mr.F  kembali terhambat. Hingga suatu hari saya memutuskan untuk mengikuti basic training HMI. Saat itu saya meminta teman saya mengajak Mr.F tapi ia ternyata menolak. 3 hari 2 malam, saya dan enam teman lainnya mengikuti bastra. Ketika bastra, saya dan Mr.F saling berkomunikasi. Bahkan ia ingin menjemput saya untuk pulang bila saya memintanya saat itu juga. Namun saya menolak tawarannya tsb.
                Beberapa hari kemudian, saya dan enam orang teman saya dikabarkan akan mendapat hukuman karena mengikuti bastra tsb. Seseorang yang menganjurkan saya mengikuti bastra, seseorang yang menghukum saya, dan seseorang yang menyatakan cintanya pada saya ditengah-tengah kekalutan hubungan saya dengan Mr.F, seseorang itu adalah senior yang sangat dihormati, sebut saja Mr.FK. Dialah yang berwenang memberi hukuman pada kami. Dan untuk melindungi sang presiden, akhirnya kami dihukum menginap selama 7 malam di kampus -_____-
                Tidak disangka-sangka 7 malam itu mengubah hidup saya dan enam teman saya. Kami mulai akrab dan dikenal oleh senior. Namun sebagai konsekuensinya, karena di kampus kami sinyal sangat jelek,  komunikasi saya dengan Mr.F akhirnya berhenti. Hari berlalu begitu cepat, pengkaderan tahap 3 pun selesai. Ketika itu saya telah berpaling dari Mr.F. Bahkan ketika latihan inaugurasi, saya pernah bersikap sangat cuek padanya, padahal ketika itu ia bersikap lembut pada saya. Saya rasa inilah tahap dimana Mr.F mulai berpaling dari saya.
                Berbulan-bulan telah terlewati. Saya dan Mr.F mempunyai rentetan kisah kami masing-masing. Namun kisah tentang hubungan kami berdua tidak sampai disini. Ketika bulan Juni 2012, kami kembali, saling menyapa dan saling bertanya. Kedekatan kami terjalin lagi.
                Saya rasa inilah klimaks dari kisah saya dan Mr.F. Secara terang-terangan saya menanyakan perasaa Mr.F kepada saya dan alasan mengapa dulu ia tiba-tiba menghilang dan menjauh dari saya. Dan dia menjawab. Baginya, saya tidak merespon baik pendekatan yang ia lakukan. Mr.F lalu menanyakan perasaan saya padanya. Secara jujur saya menjawab bahwa benar dulu saya menyukainya namun sekarang saya tidak tahu apa perasaan saya padanya. Jujur atau bohongkah saya saat itu? hingga kini saya tak tahu pasti.
                Mr.F lalu menyampaikan kepada saya sesuatu hal,  bahwa ia tidak cukup baik untuk saya dan meminta saya untuk mencari yang lebih baik. Seketika itu pula saya tersadar, mungkinkah ini cara halus yang Mr.F lakukan untuk menyampaikan bahwa ia tidak lagi menginginkan saya? Oleh karenanya, saya berkata pada Mr.F  bahwa saya akan melepaskannya. Namun tidak disangka-sangka, ia malah berbalik mempertanyakan keputusan saya untuk melepasnya. Bukahkah itu yang ia mau? Atau saya yang salah mengartikan maksudnya?
                Memasuki bulan ramadhan, untuk pertama kalinya kami saling bertemu setelah pengakuan kami masing-masing. Dan saya rasa kali ini hubungan kami semakin dingin. Hingga tiba suatu hari dimana kami menjalin perbincangan yang hangat memalui pesan pendek. Berawal dari basa-basi dan candaan, ia mengajak saya berkunjung ke rumahnya. Sesuatu terjadi disana, entah itu kesalahan atau kesalahpahaman. Meski ia sudah memohon maaf, dan saya telah memaafkannya. Namun sungguh saya belum bisa melupakan hal tsb. Inilah awal dimana tembok besar muncul dan membatasi kami. Bahkan  ketika saya begitu merindukan Mr.F seketika  tembok ini mampu meruntuhkan kerinduan saya.

15 Februari 2013

                Hari ini hari yang baik kah? Atau malah sebaliknya?
                Saya mulai melangkahkan kaki memasuki kampus dengan perasaan yang ringan. Walau beban untuk menyelesaikan tugas masih ada dipundak.
                Ketika sedang mengerjakan tugas di ruang telamatika FKM, saya bertemu dengannya. Bertemu Mr.F. Bahkan kami berada dalam jarak yang sangat dekat. Walaupun jarak kami dekat, tapi perasaan kami tidak. Bahkan dengan jarak yang sedekat itu, kami tak saling menyapa. Entah apa yang dipikirkannya tentang saya. Tapi bagi saya, itu cukup membuat hati saya bergetar.
                Masihkah perasaan itu ada? Saya tak tahu. Mungkin yang tertinggal kini hanya penasaran dan ambisi tentangnya. Karena saya tidak mendapatkan apa yang dulu seharusnya saya dapatkan.
                Sesaat berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 3. Itu berarti sudah saatnya kuliah PBL. Dikelas PBL seorang teman memberitahu saya beberapa hal. Dan tahukah? Salah satunya mengenai Mr. F. Mr.F dicurigai sedang menjalin hubungan dengan salah satu teman kami. Ketika mendengar itu sejujurnya saya seperti tercekik. Bukan karena saya masih mengharapkan dia, hanya saja... entahlah, saya tak tahu perasaan saya saat itu. Tapi satu hal, kejadian itu menyadarkan saya bahwa Mr.F memang sudah berlalu.
                Tidak ada lagi yang harus diharapkan darinya. Saya sudah menebus kesalahan saya yang dulu. Dan terlebih lagi, ada tembok besar yang membatasi kami. Tembok yang entah merupakan kesalahan atau kesalahpahaman diantara kami. Oke, INI SUDAH BERAKHIR atau memang HARUS DIAKHIRI.
                Saya putuskan untuk menutup dan menyelesaikan kisah ini. Meski sejujurnya saat ini hati saya tak sejalan dengan pikiran saya, tapi tidak ada jalan lain bagi kami. Yang tersisa kini hanya penyesalan dan pelajaran yang sangat bermakna. Bahwa jika engkau menyayangi seseorang perlakukanlah ia dengan baik. Seperti kata pepatah, bahwa sesuatu baru akan terasa sangat berharga ketika kita sudah kehilangannya. Dan saya rasa, kesempatan kami, saya dan Mr.F telah hilang. Waktu kami yang telah berlalu sampai kapanpun tidak dapat dikembalikan. Meski jalan didepan sana tidak ada yang tahu, akankah masih ada pintu untuk kami? Who knows? Just let it flow ^^







  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar