Tukang-tukang becak berduyun duyun dengan pemberontakan
jiwanya yang dilindas oleh kekuasaan semena-mena, yg bersembunyi dibalik pasal
pasal yang tak pernah jelas dasarnya. Tukang tukang becak darahnya merah,
mendidih dan menggelegak, lalu berenang di atas sungai keringatnya sendiri,
sembari memprotes penguasa, sampai tingkat paling frustasi; protes kepada
Tuhan. Mereka ramai ramai menengadahkan tangannya ke langit, sambil mengernyitkan
jidat dan mengkoma kamitkan bibirnya yang telah lama mongering.
Tuhan,
kenapa Engkau berikan kursi kekuasaan kepada orang-orang yang tak peduli
pada nasib kemiskinan kami. Kenapa Engkau limpahkan mandat keamanan negeri
pada aparat yg dengan bersuka ria mengobrak-abrik nafas kami. Mengapa
penguasa-penguasa kami lupa pada ibundanya, padahal kami kami yang dibawah
inilah yang menyangga kelahiran mereka, bahkan kokohnya pilar pilar istana
mereka. Mengapa tangis-tangis kami hanya menjadi bahan sinisme dan tertawaan
pesta-pesta mereka. Tuhan, dimana keadilan Mu, dimana pula Cinta dan Kasihmu.
Doa
tukang becak menusuk langit hingga tembus sampai Arasy Ilahi sana. Doa yang
menggetarkan malaikat dan berjuta juta ruh yang bergemuruh dengan tasbihnya.
Tiba tiba suara menggema dari langit. Wahai hamba-hambaKu tercinta. Akun memang
menakdirkan sebuah kezaliman bagi kekuasaan yang menindas, karena aku hendak
menghancurkan rezim yang menginjak nginjak hati nuranimu. Aku memang mengutus seorang
yg telah lama alpa kepada Ku, tak pernah menyebut nama Ku, tak permah
menggetarkan jantung Ku, kecuali Aku telah lama dijadikan legitimasi politik
belaka. Aku dijadikan symbol dalam bendera-bendera mereka, bahkan jihad-jihad
mereka. Ketahuilah wahai para abang becak yang Kucinta, sesungguhny Aku
menyertaimu ketika kalian sedang mengayuhkan pedal pedalmu, Aku mengalir
diantara peluh keringatmu, bahkan Aku berada diantara nafas-nafas beratmu. Aku
sudah lama menyertai kesabaranmu, bahkan terasa bagitu indah doa-doamu, bagai
melodi biola gesekan para bidadari Ku.
Oh,
Tuhanku, pinta para tukang becak itu lagi. Aku bersama mereka dan berjuta-juta
yang lapar, yang tersingkirkan dari nasib keberuntungan sejarah. Sesungguhnya
aku masih ingin protes pada wakil-wakilku di Senayan itu. Tiba-tiba mereka jadi
bisu, jadi kaku, jadi beku. Apakah karena salju-salju kekuasaan dan uang
pendingin telah membungkus tubuh dan jiwa mereka? Pasti di akhirat nanti, mereka akan saya paksa
untuk menjadi tukang-tukang becak, mengayuh pedal mengantarku ketempat tujuan,
ke syurga sana. Gubernur, Walikota, Presiden, Wakil Presiden, Ketua DPR, Ketua
MPR dan ketua fraksi-fraksi dan semua kaum senayan itu, wahai Tuhanku, jadikan
anak cucu mereka, tukang becak semua.
Suara dari langit menggema lagi, Wahai nafas jiwaKu, Aku mendengar
rintihanmu. Aku senantiasa berada di atas pengkuan becakmu. Aku diantra celah
celah-celah kerut jidatmu, berada di dalam otot-otot cobaan yg
mengaliridarahmu, berada dlam istirahatmu ketika senja tiba dan dinginnya malam
menjadi selimutmu.
Ingatlah
wahai getaran ruhKu, sejarah telah menjadi pelajaran manusia, ketika sejarah
hendak menutup buku catatannya dengan su ul khatimahnya, pasti sejarah itu
dihuni oleh kaum munafikin, fasikin, kadzibin, dan pendusta lainnya. Seluruh
nafasmu, basah keringatmu, ayunan kakimu, akan Kutimbang lebih dibanding darah
para pahlawan syuhada. Suara itu terus mengema, bergema dan membentur dinding perbukitan, membentur
dinding kemunafikan, merobohkan altar-altar kekuasaan.
Wahai tukang becak diseantero bumi Ku,
kalianlah yang kelak lebih dahulu masuk syurgaku. Sementara orang-orang yang
menikmati keringatmu, meminum darahmu, memperkosa jasadmu, memperdayai nasibmu,
akan Ku celup dalam ribuan tahun dalam neraka Ku, akan Ku cuci darah korupsinya,
daging manipulasinya, kulit-kulit ambisinya, mulut-mulut kedustaannya,
,mata-mata nanar pesona duniawinya, nafas-nafas kebinatangannya, dalam air
mendidih di atas bara api yang dibakar oleh nafsu, dan kekejaman hatinya yg
membatu. Begitulah Aku dan Kekuasaan Ku.
Ribuan wajah tukan becak menunduk, menjenguk hati masing-masing. Ribuan wajah
pucat pasi, kehabisan darah masa depannya. (NN)






0 komentar:
Posting Komentar