Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Ketika lisan tak mampu lagi menjelaskan segala rasa maka aku memilih tulisan untuk menjewantahkan segalanya...

Aku, Bapak dan Tuhan



   Rasanya begitu menyesakkan. Rindu yang ku pendam seakan mampu meruntuhkan seisi dunia. Pada siapa akan ku adu kerinduan ini? menangis tak ada gunanya, hanya semakin menunjukkan sisi kelemahan yang kumiliki. Aku begitu mrindukannya, seakan dadaku sesak bahkan untuk bernafas dan menghirup udara kehidupan.
   Sudah bertahun-tahun, tapi sakitnya masih amat berbekas dan semacam abadi dihati dan pikiranku. Aku rindu bapak, sangat merindukannya. Saat mencapai klimaks kerinduan ini, ingin sekali rasanya aku berlari ke pusaranya. Jauhh, sangat jauh. Baik pusara maupun kehadiran bapak. Semuanya kini semu dan hanya menyisakan keperihan yang mendalam. Andai bapak masih ada, andai....
   Aku tak tahu apa kesalahan yang telah kuperbuat hingga aku dihukum Tuhan sedemikian rupa, tidakkah aku akan diberi kesempatan untuk berbahagia? Namun kebahagiaan yang ku inginkan adalah kehadiran bapak, kebahagiaan yang tentu tak akan pernah ku dapatkan. Bertahun-tahun telah berlalu, namun hati masih terpaut akan masa lalu. Kebahagiaan keluarga yang sempurna yang sempat ku miliki kini hanyalah kenangan. Bayang-bayang yang senantiasa menarikku untuk hidup keterbelakangan.
   Ah, dunia begitu kejam buatku. Bagi aku, ibu dan saudara-saudara yang teramat sangat ku sayangi. Aku tahu, sangat tahu. Bahwa dimana ada pertemuan maka disitu akan ada perpisahan. Tapi bukankah Ia berjanji bahwa apa yang hilang akan diganti dengan yang jauh lebih baik? Benarkah? Katanya bahkan bintang membutuhkan kegelapan agar terus nampak bersinar. Apakah aku semacam bintang yang membutuhkan kesedihan agar terus nampak tegar? Ku mohon, sudahi segalanya. Aku hanya ingin hidup bahagia seperti perempuan normal seusiaku. Aku lelah, sangat lelah. Aku mulai tumbang melawan dunia ini. Masihkah aku sempat menemukan kebahagiaan sebelum kesedihan mematikan jiwa ku? 
   Dari sekian banyak buku yang ku baca, dari sekian banyak motivasi yang ku dengar, dari sekian banyak guru kehidupan yang ku temui, tidakkah itu cukup untuk membuatku bahagia dan bersyukur? Syukur duhai syukur. Ikhlas duhai ikhlas. Mengapa begitu sulit bagiku? Teramat sangat mudah mengucapkankannya, namun tak semudah itu untuk melakukannya.   
   Berkali ku coba, tapi toh sisi kelemahan ini sering menampakkan dirinya. Memasuki interval terbawah ini, rasanya semua tak berarti. Siapalah aku ini? “aku orang yang sangat penting” “aku bukan siapa-siapa”. Kedua jawaban itu kudengar dari dalam diriku. Tapi sampai akhir aku tak jua menemukan jawaban mana yang benar bagiku. Mengapa? Karena semua selalu ku akhiri dengan tertidur. Menitipkan jiwa ku pada Tuhan yang Maha Besar. Mungkinkah jiwa ku dibelai-Nya? Mungkinkah kepala ku dielus-Nya? Aku rindu kamu Tuhan, hadirlah dalam setiap nafas ku. Sudahi segala sakitku. Tunjukkan aku jalan kebahagiaan yang ku inginkan dan yang telah Kau rencakan. Buaknkah aku salah seorang hamba-Mu yang begitu Engkau cintai?



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

RIO


    Semuanya masih begitu lekat diingatan. Kala itu aku jatuh cinta pada sosoknya yang sederhana, sosok yg nyaris setiap hari ku jumpai.

   Dia adalah teman semasa kuliah, teman dalam berbagi suka dan duka. Namanya Rio. Ketika itu Rio memiliki seorang kekasih, aku tahu, bahkan sangat tahu. Tapi tetap saja aku tak mampu membendung perasaan ku padanya.
    Hingga suatu ketika ia mengetahui rasa yang ku simpan ini dan tetiba semua berubah. Dunia menjadi lebih ceria, kampuspun menjadi tempat yang begitu menarik buatku. Rio mulai mendekatiku, meski ketika itu ia masih berstatus kekasih orang lain. Tp tak apalah, toh memang itu yg kuharapkan bahkan sangat kuharapkan. Hubungan Rio dan kekasihnya memang tak terlalu baik dan jujur aku sangat berharap mereka segera berpisah agar aku dan Rio dapat bersama.
    Bak dayung yang bersambut, hari itu aku tahu Rio telah putus dari kekasihnya. Beberapa saat berselang, aku dan Rio pun resmi menjadi sepasang kekasih. Hubungan kami baik-baik saja. Rio adalah sosok yang begitu sabar menghadapiku, dibanding mantan kekasihku yang lain Rio lah yang paling setia menungguku tanpa omelan tanpa amarah.
   Namun semua itu seketika berubah setelah aku mendapati percakapan Rio dengan salah seorang temannya. Rio meminta dicarikan seorang perempuan, seorang calon pacar baru mungkin. Amarahku membludak, kepercayaan ini runtuh sudah, sosok yang selama ini ku banggakan ternyata berlaku buruk dibelakang ku. Kejadian ini memang tak membuat tali kasihku dengan Rio putus, namun segalanya telah berubah. Aku menjadi lebih cemburuan, sering berpikir negatif bahkan menajdi sering marah padanya. Hubungan kami berubah menjadi dingin. Aku yang seringkali dianggap cuek oleh Rio, kini benar-benar merasa lelah akan semuanya. Kebiasaan Rio di media sosial yang seakan-akan begitu menderita menjalin hubungan denganku membuat tekadku semakin bulat, aku ingin memutuskan tali kasih ini.
   Hari itu, ku jalankan keinginanku untuk mengakhiri segalanya. Berharap dengan berakhirnya hubungan ini maka segala penderitaanpun ikut berakhir. Namun ternyata aku salah. Semua menjadi lebih buruk.  1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, aku belum mampu melupakan dan menghapus sosok Rio. Aku baru menyadari betapa aku sangat mencintainya. Sosok yang nyaris tiap hari kujumpai, yang seringkali berada sangat dekat denganku.
    Hubungan kami kini menjadi lebih rumit dan tentu lebih menyakitkan, terutama buatku. Sayup-sayup ku dengar kabar Rio dengan perempuan lain, berharap semua itu hanyalah kabar yang tak benar.Tak sanggup ku bendung perasaan ini, hingga aku memutuskan untuk berbicara empat mata dengan Rio.  Aku hanya ingin memperjelas semuanya, memperjelas hubungan ini. Benar kami sudah putus sedari beberapa bulan yang lalu, tapi semuanya belum berakhir. Rio berkata jika ia masih menyayangiku, pun dengan diriku yang masih menyayanginya.
    Setelah hari itu kami menjalani semuanya dari awal meski tak lagi ada peristiwa “tembak-menembak” atau deklarasi bahwa kami pacaran lagi.
    Bahagiakah aku? Iya, aku bahagia. Tapi aku tak yakin dengan Rio. Di kampus, didepan teman-teman, Rio seakan tak menganggapku ada. Pernah sekali kami bersama-sama berangkat ke kampus dan alangkah tercengangnya aku ketika rio seakan tak ingin dilihat berjalan masuk ke kampus bersamaku. Sikap Rio berubah, entah apa yang salah. Aku seakan disembunyikan, hubungan kami ditutup-tutupi. Di depan teman-teman, aku bak manusia transparan yang tak dianggap ada.  Rio pun menjadi jarang menghubungiku, malas membalas pesanku, terlebih untuk berbicara panjang lebar ditelepon dengan ku. Ia dingin, sangat dingin. Sikapnya begitu membuatku terluka.
    Berkali aku mengajaknya untuk bicara empat mata, namun ketika kami bertemu sikapnya bak kekasih yang begitu perhatian. Di belakang teman-teman kami tentunya. Hubungan kami nampak harmonis jika hanya ada kami, hanya kami berdua. Jauh berbeda jika dihadapan teman-teman kami. Sebenarnya apa yang salah? Tidakkah dia menyadari perasaanku padanya? Tidakkah dia menyadari betapa aku terluka karenanya?
Tak cukup dengan sikap Rio padaku, aku pun mendengar kabar yang mampu menyesakkan nuraniku. Rio dekat dengan seorang teman dari teman kami. Katanya mereka sering jalan berdua. Selama ini aku dianggap apa? Ketika ku tanyakan kebenaran kabar itu, Rio mengelak, ia mengaku bahwa perempuan itu hanyalah teman. Benarkah? Teman seperti apa? Teman yg mampu mengalihkan perhatian yang harusnya untuk ku tetapi diberikan kepadanya?
    Andai dapat aku memilih, ingin ku akhiri semua ini, perasaan menyesakkan yang ku rasakan setiap hari, aku terluka sungguh terluka. Aku ingin mengakhiri segalanya, namun aku tak tahu harus bagaimana. Ibarat perokok yang ingin berhenti merokok, keinginan dan niat ada, tapi entah harus bagaimana. Sama halnya dengan diriku saat ini. mampukah aku mengakhiri segala penderitaan ini? jika berakhir akankah lukanya benar-benar sembuh? Atau aku harus berjuang melawan sakit ini? Aku tak tahu.. Sungguh tak tahu...Inikah hukuman untuk ku karena pernah bersikap sangat acuh padanya?
    Kata orang, sekali kita kehilangan meskipun kita memilikinya kembali semua tak akan sama lagi. Apa ini juga berlaku untuk Rio?


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Papan Wicara PBL 2

Makassar, 7 Januari 2014

Inilah hidup, jangan pernah bergantung pada siapapun. Toh pada akhirnya semua akan dijalani dengan sendiri, cepat atau lambat. Dan inilah salah satu contohnya.
Entah kemana ia seharian ini, tanpa berita atau sayup-sayup kabar darinya. Seperti angin yang entah berasal dan akan berakhir dimana.
Ditengah kesibukan menjalani PBL 2, aku masih harus dipusingkan oleh hati yang masih senantiasa resah akan dirinya.
Alhasil, karena selalu bergantung padanya mengenai design-mendesign, hingga kini aku tak jua mampu berkarya sendiri. Maka beginilah hasil dari kekuatan kepepet. Kata orang inspirasi terbesar adalah deadline. Yeah, I think so...
Berikut adalah hasil design abal-abal malam ini >.<




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kutipan Tentang Kita

"Cinta butuh waktu untuk bisa kita rasakan?" aku mengangguk setuju. "Tapi sampai kapan? Sampai orang yang mencintaimu pada akhirnya memilih pergi karena tak kuat diabaikan berkali-kali?"
Aku tertawa dalam hati, menertawai diri sendiri

Begitu manisnya ketulusan cinta, namun akan lebih manis lagi jika tak hanya 1 orang yang berjuang untuk membahagiakan, harus saling membahagiakan

Aku mengulum bibirku. Usahaku masih terlalu dangkal baginya. Cinta yang ku tunjukkan ternyata belum menyentuh hatinya. Ia masih terpaut pada masa lalu ketika aku sudah menganggapnya sebagai masa depan. Ia masih belum bisa melupakan masa lalunya, ketika aku secara perlahan-lahan berusaha menyembuhkan lukanya yg perih.
Cinta butuh waktu. Butuh wktu untuk membuat dia segera melupakan masa lalunya kemudian mencintaiku. butuh waktu untuk membuat ia memahami, ada cinta yang lebih masuk akal untuk ia percayai.
Cinta memang butuh waktu

(Dikutip dari cerpen Dwitasari)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Desa Siaga

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Definisi Desa Siaga
Desa Siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-rnasalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan, secara mandiri.
Desa Siaga  merupakan gambaran masyarakat yang sadar, mau dan mampu untuk mencegah dan mengatasi berbagai ancaman terhadap kesehatan masyarakat seperti kurang gizi, penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa ( KLB) , kejadian bencana, kecelakaan, dan lain-lain, dengan memanfaatkan potensi setempat secara
gotong royong.
Desa yang dimaksud di sini dapat berarti Kelurahan atau negeri atau istilah-istilah lain bagi kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
B.     Tujuan Desa Siaga
Terwujudnya masyarakat desa yang sehat, serta peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya. Pengembangan Desa Siaga mencakup upaya untuk lebih mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat desa, menyiap siagakan masyarakat menghadapi masalah-masalah kesehatan, memandirikan masyarakat dalam mengembangkan perilaku hidup bersih dan sehat. Untuk mengubah desa menjadi Desa Siaga akan lebih cepat bila di desa tersebut telah ada berbagai Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM). 
C.    Sasaran Pengembangan dan Kriteria Desa Siaga
Untuk mempermudah strategi intervensi, sasaran pengembangan Desa Siaga dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :
  1. Semua individu dan keluarga di desa, yang diharapkan mampu melaksanakan hidup sehat, serta peduli dan tanggap terhadap per-masalahan kesehatan di wilayah desanya.
  2. Pihak-pihak yang mempunyai pengaruh terhadap perubahan perilaku individu dan keluarga atau dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan perilaku tersebut, seperti tokoh masyarakat, termasuk tokoh agama; tokoh perempuan dan pemuda; kader; serta petugas kesehatan
  3. Pihak-pihak yang diharapkan memberikan dukungan kebijakan, peraturan perundang-undangan, dana, tenaga, sarana, dan lain-lain, seperti Kepala Desa, Camat, para pejabat terkait, swasta, para donatur, dan pemangku kepentingan Iainnya.
Adapun kriteria dari sebuah desa telah menjadi Desa Siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang - kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes).
D.    Langkah-langkah Pengembangan Desa Siaga
1.    Identifikasi Masalah Kesehatan
Langkah awal yang dilakukan dalam penggerakan pemberdayaan masyarakat untuk membentuk dan mengembangkan Desa/Kelurahan Siaga adalah identifikasi masalah kesehatan dengan menitik beratkan pada masalah penyakit, lingkungan dan perilaku. Identifikasi masalah kesehatan dapat dilakukan melalui pengumpulan data sekunder di Puskesmas dan kantor Desa/Kelurahan setempat atau melalui pengumpulan data dengan metode observasi partisipatif, diskusi kelompok terarah dan survei/kunjungan rumah dengan menggunakan kuesioner.
            Informasi yang diperlukan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan adalah sebagai berikut :
a.    Penyakit/nama penyakit
b.    Penyebab penyakit menurut Puskesmas
c.    Penyebab penyakit menurut masyarakat
d.   Perilaku masyarakat yang dapat mengakibatkan sakit
e.    Perilaku masyarakat yang bisa mencegah timbulanya penyakit
f.     Lingkungan yang menyebabkan timbulnya penyakit
g.    Lingkungan yang bisa mencegah timbulnya penyakit
h.    Cara mencegah agar orang tetap sehat dan tidak sakit
i.      Cara mencegah agar penyakit tidak menular
j.      Apa yang bisa dilakukan oleh tiap keluarga agar terhindar dari penyakit
k.    Apa yang bisa dilakukan oleh pemuka masyarakat agar wilayahnya terhindar dari penyakit.
l.       Dan lain-lain
2.    Pertemuan Tingkat Desa (PTD)
Pertemuan tingkat Desa/Kelurahan merupakan langkah awal dari kegiatan pembinaan di tingkat Desa/Kelurahan.
a.    Tujuan PTD :
1)   Dikenalnya konsep desa siaga sebagai salah satu upaya penggerakan dan pemberdayaan masyarakat dan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
2)   Diperolehnya dukungan kepala desa/kelurahan dan pemuka masyarakat dalam pelaksanaan penggerakan dan pemberdayaan masyarakat
3)    Dikenalnya masalah penyakit, lingkungan dan perilaku yang menyebabkan masalah kesehatan
4)   Diperolehnya kesepakatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pengembangkan Desa/Kelurahan menjadi Desa Siaga.
b.    Tempat pertemuan
Tempat pertemuan sebaiknya di desa, dengan memilih balai desa atau
tempat lain yang bisa menampung kurang lebih 20 - 30 orang peserta.
c.    Peserta pertemuan
a)    Peserta tingkat kecamatan
a)    Camat
b)   TP-PKK kecamatan
c)    Kepala Puskesmas
d)   Staf Puskesmas
e)    Diknas
f)    Departemen Agama
g)    Peserta tingkat desa
h)   Kepala Desa
i)     TP-PKK Desa
j)     Sekdes
k)   BPD
l)     Tokoh Agama
m) Tokoh masyarakat/Guru
d.   Waktu
e.    Waktu pertemuan hendaknya disesuaikan dengan kesediaan dan kondisi desa yang bersangkutan, agar memungkinkan semua yang diundang dapat hadir serta cukup memberikan ksesempatan untuk tercapainya tujuan pertemuan tingkat desa.
f.     Pelaksanaan
1)   Kepala Desa/Kelurahan yang mengundang para peserta pertemuan
tingkat desa.
2)   Pertemuan dibuka oleh kepala Desa/Kelurahan dengan memperkenalkan para hadirin dan menjelaskan maksud dan tujuan serta acara pertemuan
3)   Kepala desa mempersilahkan camat/wakilnya untuk memberikan sambutan atau arahan dalam pertemuan.
4)   Kemudian kepala Puskesmas/Petugas Promosi kesehatan Puskesmas/
5)   Tokoh masyarakat sebagai pembicara dan menjelaskan tentang masalah kesehatan hasil observasi masalah kesehatan dan perlunya Desa Siaga yang meliputi latar belakang, tujuan dan cara pelaksanaan serta pentingnya dukungan masyarakat dalam program tersebut.
6)    Selanjutnya diskusikan bersama tentang langkah kegiatan berikutnya, khususnya tentang survei mawas diri, musyawarah masyarakat desa,waktu pelaksanaan survei dan kelompok yang akan melakukan survei, serta ditentukannya waktu untuk mengadakan musyawarah masyarakat desa
3.    Survei Mawas Diri
Survei Mawas Diri adalah kegiatan pengenalan, pengumpulan dan pengkajian masyaralah kesehatan yang dilakukan oleh kader dan tokok masyarakat setempat dibawah bimbingan kepala Desa/Kelurahan dan petugas kesehatan (petugas Puskesmas, Bidan di Desa).
a.       Tujuan SMD :
1)   Dilaksnakannya pengumpulan data, masalah kesehatan, lingkungan dan perilaku.
2)   Mengkaji dan menganalisis masalah kesehatan, lingkungan dan perilaku yang paling menonjol di masyarakat.
3)   Mengiventarisasi sumber daya masyarakat yang dapat mendukungupaya mengatasi masalah kesehatan.
4)   Diperolehnya dukungan kepala desa/kelurahan dan pemuka masyarakat dalam pelaksanaan penggerakan dan pemberdayaan masyarakat di Desa Siaga.
b.      Sasaran
Sasaran SMD adalah semua rumah yang ada di desa/kelurahan atau menetapkan sampel rumah dilokasi tertentu (± 450 rumah) yang dapat menggambarkan kondisi masalah kesehatan, lingkungan dan perilaku pada umumnya di desa/kelurahan.
c.       Lokasi
SMD dilaksanakan di desa/kelurahan terpilih
d.      Pelaksana
SMD dilaksanakan oleh kader dan tokoh masyarakat atau sekelompok
warga masyarakat yang telah ditunjuk pada pertemuan tingkat desa.
e.       Waktu
Waktu SMD dilaksanakan sesuai dengan hasil kesepakatan pertemuan tingkat desa/kelurahan.
f.        Cara Pelaksanaan
1)     Petugas Puskesmas, Bidan di desa dan kader/kelompok warga yang ditugaskan untuk melaksanakan SMD dengan kegiatan meliputi :
a)        Pengenalan instrumen (daftar pertanyaan) yang akan dipergunakan dalam pengumpulan data dan informasi masalah kesehatan.
b)        Penentuan sasaran baik jumlah KK ataupun lokasinya
c)        Penentuan cara memperoleh informasi masalah kesehatan dengan cara wawancara yang menggunakan daftar pertanyaan.
2)      Pelaksana SMD
Kader, tokoh masyarakat dan kelompok warga yang telah ditunjuk melaksanakan SMD dengan bimbingan petugas Puskesmas dan bidan di desa mengumpulkan informasi masalah kesehatan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
3)      Pengolahan Data
Kader, tokoh masyarakat dan kelompok warga yang telah ditunjuk mengolah data SMD dengan bimbingan petugas Puskesmas dan bidan di desa, sehingga dapat diperoleh perumusan masalah kesehatan untuk selanjutnya merumuskan perioritas masalah kesehatan, lingkungan dan perilaku di desa/kelurahan yang bersangkutan.
4.      Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)
MMD adalah pertemuan seluruh warga desa/kelurahan atau warga masyarakat yang mewakili semua komponen masyarakat di desa/kelurahan untuk membahas hasil survei mawas diri dan merencanakan upaya penanggulangan masalah kesehatan, lingkungan dan perilaku yang diperoleh dari hasil survei mawas diri.
a.    Tujuan MMD :
1)   Masyarakat mengenal masalah kesehatan di wilayahnya.
2)   Masyarakat bersepakat untuk menanggulangi masalah kesehatan melalui penggerakan dan pemberdayaan masyarakat di Desa Siaga.
3)    Masyarakat membentuk forum Desa/Kelurahan Siaga dan menetapkan Poskesdes sebagai koordinator pelaksanaan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat.
4)   Masyarakat menyusun rencana kerja untuk menanggulangi masalah kesehatan di wilayahnya.
5)   Mempersiapkan pelatihan kader dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam mengembangkan Desa Siaga dan operasional Poskesdes.
b.    Tempat pertemuan
Tempat pertemuan sebaiknya di desa, dengan memilih balai desa atau
tempat lain yang bisa menampung kurang lebih 20 - 30 orang peserta.
c.    Peserta pertemuan
1)   Peserta tingkat kecamatan : Camat, TP-PKK kecamatan, Kepala Puskesmas, Staf Puskesmas, Diknas, Departemen Agama, Lintas sektor terkait
2)   Peserta tingkat desa: Kepala Desa, TP-PKK Desa, Sekdes, BPD, Tokoh Agama, Tokoh masyarakat/Guru
d.   Waktu
Waktu pertemuan segera setelah SMD atau disesuaikan dengan kesediaan dan kondisi desa/kelurahan yang bersangkutan, agar memungkinkan semua yang diundang dapat hadir serta cukup memberikan ksesempatan
untuk tercapainya tujuan musyawarah masyarakat desa.
e.    Pelaksanaan
1)   Kepala Desa/Kelurahan yang mengundang para peserta MMD.
2)   MMD dibuka oleh kepala Desa/Kelurahan dengan menguraikan maksud dan tujuan musyawarah.
3)   Pengenalan masalah kesehatan oleh masyarakat sendiri melalui curah pendapat dengan menggunakan alat peraga, poster dan lain-lain dipimpin oleh petugas Puskesmas atau bidan di desa.
4)    Penyajian hasil SMD oleh tokoh masyarakat/kader/kelompok SMD.
5)    Perumusan dan penentuan perioritas masalah kesehatan atas dasar pengenalan masalah (butir c) dan hasil SMD dilanjutkan dengan rekomendasi tehnis dari petugas Puskesmas/bidan di Desa.
6)    Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat (RKM) dalam rangka penanggulangan masalah kesehatan, dipimpin oleh kepala Desa/Kelurahan, dilanjutkan dengan pembentukan forum Desa Siaga dan penetapan Poskesdes sebagai koordinator UKBM.
7)   Penutup.
E.     Tahapan Desa Siaga
1.    Tahap Bina
   Pada tahap ini forum masyarakat desa mungkin belum aktif, namun telah ada forum/lembaga masyarakat desa yang telah berfungsi dalam bentuk apa saja, misalnya kelompok rembug desa, kelompok yasinan atau persekutuan doa, dsb. Demikian juga Posyandu dan Polindesnya mungkin masih pada tahap pratama. Pembinaan intensif dari petugas kesehatan dan petugas sektor lainnya sangat diperlukan, misalnya dalam bentuk pendampingan saat ada pertemuan forum desa untuk meningkatkan kinerja forum dengan pendekatan PKMD.
2.    Tahap Tumbuh
Pada tahap ini forum masyarakat desa telah aktif dari anggota forum untuk mengembangkan UKBM sesuai kebutuhan masyarakat selain posyandu , Demikian juga Polindes dan Posyandu sedikitnya sudah pada tahap madya. Pendampingan dari tim Kecamatan atau petugas dari sektor/LSM masih sangat diperlukan untuk pengembangan kualitas Posyandu atau pengembangan UKBM lainnya. Hal penting lain yang diperhatikan adalah pembinaan dari Puskesmas PONED sehingga semua hamil bersalin nifas serta bayi baru lahir yang risiko tinggi dan mengalami komplikasi dapat ditangani dengan baik. Disamping itu sistem surveilans berbasis masyarakat juga sudah sudah dapat berjalan, artinya masyarakat mampu mengamati penyakit ( menular dan tidak menular ) serta faktor risiko di lingkungannya secara terus menerus dan melaporkan serta memberikan informasi pada petugas kesehatan / yang terkait.
3.    Tahap Kembang
Pada tahap ini forum kesehatan masyarakat telah berperan secara aktif dan mampu mengembangkan UKBM sesuai kebutuhan masyarakat dengan biaya berbasis masyarakat. Sistem Kewaspadaan Dini masyarakat menghadapi bencana dan kejadian luar biasa telah dilaksanakan dengan baik, demikian juga dengan sistem pembiyaan kesehatan berbasis masyarakat. Jika selama ini pembiayaan kesehatan oleh masyarakat sempat terhenti karena kurangnya pemahaman terhadap sistem jaminan ,masyrakat didorong lagi untuk mengembangkan sistem serupa dimulai dari sistem yang sederhana dan jelas dibutuhkan oleh masyarakat, misalnya tabulin. Pembinaan masih diperlukan meskipun tidak terlalu intensif.
4.    Tahap Paripurna
Pada tahap ini semua indikator dalam kriteria Desa Siaga sudah terpenuhi. Masyarakat sudah hidup dalam lingkungan sehat serta berperilaku hidup bersih dan sehat. Masyarakatnya sudah mandiri dan siaga tidak hanya terhadap masalah kesehatan yang mengancam , namun juga terhadap kemungkinan musibah / bencana non kesehatan. . Pendampingan dari Tim Kecamatan sudah tidak diperlukan lagi.
F.     Indikator Keberhasilan Desa Siaga
Keberhasilan upaya Pengembangan Desa Siaga dapat dilihat dan empat kelompok indikatornya, yaitu:
1.    Indikator Masukan
Indikator masukan adaiah indikator untuk mengukur seberapa besar masukan telah dibenikan dalam rangka pengembangan Desa Siaga. Indikator masukan terdiri atas hal-hal berikut:
a.       Ada/tidaknya Forum Masyarakat Desa
b.      Ada/ tidaknya Poskesdes dan sarana bangunan serta perlengkapannya.
c.       Ada/ tidaknya UKBM yang dibutuhkan masyarakat
d.      Ada/tidaknya tenaga kesehatan (minimal bidan)
2.    Indikator Proses
Indikator proses adalah indikator untuk mengukur seberapa aktif upaya yang dilaksanakan di suatu Desa dalam rangka pengembangan Desa Siaga. Indikator proses terdiri atas hal-hal berikut:
a.       Frekuensi pertemuan Forum Masyarakat Desa.
b.      Berfungsi/tidaknya Poskesdes.
c.       Berfungsi/tidaknya UKBM yang ada.
d. Berfungsi/tidaknya Sistem Kegawatdaruratan dan Penanggulangan Kegawatdaruratan dan Bencana.
e.       Berfungsi/tidaknya Sistem Surveilans berbasis masyarakat.
f.       Ada/tidaknya kegiatan kunjungan rumah untuk kadarzi dan PHBS.
3.    Indikator Keluaran
Indikator Keluaran adalah indikator untuk mengukur seberapa besar hasil kegiatan yang dicapai di suatu Desa dalam rangka pengembangan Desa Siaga. lndikator keluaran terdiri atas hal-hal berikut:
a.       Cakupan pelayanan kesehatan dasar Poskesdes
b.      Cakupan pelayanan UKBM-UKBM lain.
c.       Jumlah kasus kegawatdaruratan dan KLB yang dilaporkan
d.      Cakupan rumah tangga yang mendapat kunjungan rumah untuk kadarzi dan PHBS
4.    Indikator Dampak
Indikator dampak adalah indikator untuk mengukur seberapa besar dampak dan hasil kegiatan di Desa dalam rangka pengembangan Desa Siaga. Indikator proses terdiri atas hal-hal berikut:
a.       Jumlah penduduk yang mendenita sakit.
b.      Jumlah penduduk yang menderita gangguan jiwa.
c.       Jumlah ibu melahirkan yang meninggal dunia.
d.      Jumlah bayi dan balita yang meninggal dunia.
e.   Jumlah balita dengan gizi buruk.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS