Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Ketika lisan tak mampu lagi menjelaskan segala rasa maka aku memilih tulisan untuk menjewantahkan segalanya...

PBL 1



Pengalaman belajar lapangan I atau yang biasa disebut sebagai PBL I adalah salah satu mata kuliah kompetensi bidang kesehatan masyarakat yang diikuti oleh mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin angkatan 2011. PBL I ini dilaksanakan di Kecamatan Tallo Kota Makassar yang terbagi atas 14 Kelurahan. Selama 15 hari, terhitung sejak 11 Juni 2013 hingga 25 Juni 2013,  mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin mulai memasuki lokasi PBL I dan melaksanakan serangkaian proses observasi lapangan serta pendataan.
            Posko 11 yang merupakan wilayah kerja kelurahan Suangga terdiri atas Widya Angraeni A, Andi Agus Mumang, Muhammad Sabri, Achmad Maulana Syam, Arisandi, Dwi Astuti Rahman, Sri Wahyuni, Emmy Palumpun, Devi Febrina Tangkin, Alfionita, Sulfianti Fahruddin, Putri Dewi Rahayu, Andi Nahlah, Nila Amalia, Nurul Hidayah, Eka Hardiyanti Arafah, Arya Dwicahyani Arman serta Hardiyanti Nur.
            Tepatnya pada tanggal 10 Juni 2013, kami dari kelompok kelurahan Suangga  mulai menempati posko kami yang terletak di kompleks unhas baraya blok M No.9. Jadi dapat dikatakan bahwa kami memasuki lokasi PBL I satu hari lebih cepat dari ketentuan pengelola PBL I. Berbagai suka dan duka telah kami lalui bersama selama 15 hari kami berada di lokasi.  Mulai dari proses pendataan yang cukup panjang, proses analisis data yang alot serta penyusunan laporan yang  menguras pikiran, waktu dan tenaga.
            Namun dibalik segala rutinitas PBL I yang kami lakukan tersebut, kami banyak mendapatkan pengalaman yang tidak mungkin kami dapatkan dibangku perkuliahan. Interaksi langsung dengan masyarakat kelurahan Suangga menyadarkan kami akan realitas yang terjadi pada masyarakat kecamatan tallo pada umumnya dan masyarakat kelurahan suangga pada khususnya.
PBL I ini secara tidak langsung  menjadi wadah bagi kami untuk mengaplikasikan dan menjewantahkan ilmu yang telah kami dapatkan dibangku perkuliahan sepanjang empat semester yang telah kami lalui. Ada banyak pengalaman hidup yang kami dapatkan di lokasi PBL I ini. Merupakan suatu kebahagiaan tersendiri  bagi kami ketika sebagian besar masyarakat menyambut kami dengan baik, pun sama halnya dengan bapak lurah Suangga beseta aparatnya yang siap merangkul dan membimbing kami.
            Kami banyak berjumpa dengan masyarakat yang masing-masing memiliki karakteristik yang unik. Bahkan tak jarang kami menjadi pendengar setia segala kisah dan keluh kesah yang dirasakan masyarakat selama ini. Ada bahagia adapula luka. Seringkali rasa iba dan air mata menetes ketika kami berhadapan dengan  responden yang begitu sedih menceritakan kehidupan yang mereka jalani. Dengan kerendahan hati mereka menitip asa pada kami, berharap kami dapat membantu mereka untuk menemukan jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi.
            Segala upaya dan usaha telah kami kerahkan dalam PBL I ini. Kami berharap semoga apa yang kami lakukan ini dapat memberi banyak manfaat, baik untuk kami selaku mahasiwa, bagi pemerintah setempat, terlebih lagi bagi masyarakat Suangga  dan juga dapat bernilai ibadah disisi-Nya. Serta semoga PBL I yang telah kami laksanakan ini dapat menjadi dasar dan fondasi bagi kami agar bisa melakukan hal yang jauh lebih baik pada PBL selanjutnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

TEMAN



Aku terlalu sering menunggu, Aku terlalu sering berharap
Berteman dengan kesakitan dan kesedihan

     Aku mencintai seseorang secara diam-diam. Entah itu benar cinta atau sesuatu yang hanya aku anggap sebagai cinta. Tak mudah memang, namun aku menganggap bahwa sikap ku ini sebagai bentuk keanggunanku. Hanya berharap yang terbaik untuknya, mendoakan setiap langkahnya, mengisi waktunya dengan membuatnya tertawa dan selalu setia disisinya.
      Aku tetap menjaga perasaan ini meski aku tak tahu bagaimana perasaannya padaku. Aku tetap berusaha menjadi yang terbaik baginya meski aku tak tahu apakah aku satu-satunya untuknya. Aku berusaha menjadi mentari yang menghangatkan atau sekedar menjadi angin yang menyejukkan untuknya meski aku tak tahu apakah aku pernah terbersit dihati atau pikirannya. Dan aku masih saja memikirkannya meski aku tak tahu kapan terkahir kali ia berpikir tentangku.
    Kami menjalaninya dengan sederhana, dengan balutan status “Teman”. Aku tak berani menganggap bahwa aku adalah seseorang yang spesial baginya, meski bagiku ia adalah seseorang yang spesial. Senantiasa mendoktrin diri sendiri agar tidak berharap terlalu banyak, agar tidak sakit terlalu banyak, agar perasaan tidak mengalir begitu banyak. Semua sikap baiknya pada ku mungkin hanya bentuk kesopanan. Mungkin ia memperlakukan semua orang seperti itu, kataku dalam hati berusaha mengontrol diri agar tidak terbawa suasana dan perasaan yang mungkin hanya ku rasakan sendiri.
    Waktu berlalu begitu cepat, hubungan ini masih terjaga. Meski jarak masih membentang diantara kami, seakan-akan ada tembok besar yang ia bangun. Hanya berasumsi sendiri, menyimpulkan semuanya sendiri, bahwa kami adalah teman. Apa salahnya teman yang setia dalam suka dan duka?
   Terkadang menyesakkan, namun lebih baik sakit sekarang dibanding harus sakit nanti. Mencoba membiasakan diri dengan rasa sakit, berharap kelak tidak akan lagi merasakan perih sakitnya.Bukan karena aku ingin, tapi aku harus. Tak ada jalan lain sepertinya. Sudah menjadi hakikat bagi seorang perempuan. Menunggu... Hingga status mendapat kejelasan, apakah ini pertemanan atau bukan?  Sembari mencari jawaban akan pertanyaan yang berkecamuk dalam hati, sungguhkah apa yang ku rasakan ini? Mungkin saja aku salah memaknainya sebagai cinta.
     Telah ku persiapkan diriku untuk kehilangannya, meski aku berharap itu tidak akan terjadi.  Namun ketika aku berani untuk mencintainya bukankah aku juga harus berani untuk kehilangannya?
Toh aku sudah berusaha yang terbaik untuknya, sekarang aku menyerahkan seutuhnya padanya. Hidup adalah pilihan bukan? Aku telah memilihnya. Namun semua itu tak akan berarti apa-apa jika ia tak memilihku. Biarlah ia yang menjawabnya. Aku hanya akan menunggu hingga waktu membantu ku untuk mendapat kejelasan.
     Aku terlalu sering menunggu. Aku terlalu sering berharap. Berteman dengan kesakitan dan kesedihan. Dan untuk itu, aku hanya akan berpikir bahwa kami adalah teman. Mencoba membiasakan diri dengan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Hanya mencoba melogikakan perasaan. Meski hati kecil ku masih menyimpan asa~

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS