Aku terlalu
sering menunggu, Aku terlalu sering berharap
Berteman dengan
kesakitan dan kesedihan
Aku
mencintai seseorang secara diam-diam. Entah itu benar cinta atau sesuatu yang
hanya aku anggap sebagai cinta. Tak mudah memang, namun aku menganggap bahwa
sikap ku ini sebagai bentuk keanggunanku. Hanya berharap yang terbaik untuknya,
mendoakan setiap langkahnya, mengisi waktunya dengan membuatnya tertawa dan
selalu setia disisinya.
Aku
tetap menjaga perasaan ini meski aku tak tahu bagaimana perasaannya padaku. Aku
tetap berusaha menjadi yang terbaik baginya meski aku tak tahu apakah aku
satu-satunya untuknya. Aku berusaha menjadi mentari yang menghangatkan atau
sekedar menjadi angin yang menyejukkan untuknya meski aku tak tahu apakah aku
pernah terbersit dihati atau pikirannya. Dan aku masih saja memikirkannya meski
aku tak tahu kapan terkahir kali ia berpikir tentangku.
Kami
menjalaninya dengan sederhana, dengan balutan status “Teman”. Aku tak berani
menganggap bahwa aku adalah seseorang yang spesial baginya, meski bagiku ia
adalah seseorang yang spesial. Senantiasa mendoktrin diri sendiri agar tidak
berharap terlalu banyak, agar tidak sakit terlalu banyak, agar perasaan tidak mengalir
begitu banyak. Semua sikap baiknya pada ku mungkin hanya bentuk kesopanan. Mungkin
ia memperlakukan semua orang seperti itu, kataku dalam hati berusaha mengontrol
diri agar tidak terbawa suasana dan perasaan yang mungkin hanya ku rasakan
sendiri.
Waktu
berlalu begitu cepat, hubungan ini masih terjaga. Meski jarak masih membentang
diantara kami, seakan-akan ada tembok besar yang ia bangun. Hanya berasumsi
sendiri, menyimpulkan semuanya sendiri, bahwa kami adalah teman. Apa salahnya
teman yang setia dalam suka dan duka?
Terkadang
menyesakkan, namun lebih baik sakit sekarang dibanding harus sakit nanti. Mencoba
membiasakan diri dengan rasa sakit, berharap kelak tidak akan lagi merasakan
perih sakitnya.Bukan karena aku ingin, tapi aku harus. Tak ada jalan lain sepertinya.
Sudah menjadi hakikat bagi seorang perempuan. Menunggu... Hingga status
mendapat kejelasan, apakah ini pertemanan atau bukan? Sembari mencari jawaban akan pertanyaan yang
berkecamuk dalam hati, sungguhkah apa yang ku rasakan ini? Mungkin saja aku
salah memaknainya sebagai cinta.
Telah
ku persiapkan diriku untuk kehilangannya, meski aku berharap itu tidak akan
terjadi. Namun ketika aku berani untuk
mencintainya bukankah aku juga harus berani untuk kehilangannya?
Toh aku sudah berusaha yang terbaik untuknya,
sekarang aku menyerahkan seutuhnya padanya. Hidup adalah pilihan bukan? Aku telah
memilihnya. Namun semua itu tak akan berarti apa-apa jika ia tak memilihku. Biarlah
ia yang menjawabnya. Aku hanya akan menunggu hingga waktu membantu ku untuk
mendapat kejelasan.
Aku
terlalu sering menunggu. Aku terlalu sering berharap. Berteman dengan kesakitan
dan kesedihan. Dan untuk itu, aku hanya akan berpikir bahwa kami adalah teman. Mencoba
membiasakan diri dengan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Hanya mencoba
melogikakan perasaan. Meski hati kecil ku masih menyimpan asa~






0 komentar:
Posting Komentar