Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Ketika lisan tak mampu lagi menjelaskan segala rasa maka aku memilih tulisan untuk menjewantahkan segalanya...

TEMAN



Aku terlalu sering menunggu, Aku terlalu sering berharap
Berteman dengan kesakitan dan kesedihan

     Aku mencintai seseorang secara diam-diam. Entah itu benar cinta atau sesuatu yang hanya aku anggap sebagai cinta. Tak mudah memang, namun aku menganggap bahwa sikap ku ini sebagai bentuk keanggunanku. Hanya berharap yang terbaik untuknya, mendoakan setiap langkahnya, mengisi waktunya dengan membuatnya tertawa dan selalu setia disisinya.
      Aku tetap menjaga perasaan ini meski aku tak tahu bagaimana perasaannya padaku. Aku tetap berusaha menjadi yang terbaik baginya meski aku tak tahu apakah aku satu-satunya untuknya. Aku berusaha menjadi mentari yang menghangatkan atau sekedar menjadi angin yang menyejukkan untuknya meski aku tak tahu apakah aku pernah terbersit dihati atau pikirannya. Dan aku masih saja memikirkannya meski aku tak tahu kapan terkahir kali ia berpikir tentangku.
    Kami menjalaninya dengan sederhana, dengan balutan status “Teman”. Aku tak berani menganggap bahwa aku adalah seseorang yang spesial baginya, meski bagiku ia adalah seseorang yang spesial. Senantiasa mendoktrin diri sendiri agar tidak berharap terlalu banyak, agar tidak sakit terlalu banyak, agar perasaan tidak mengalir begitu banyak. Semua sikap baiknya pada ku mungkin hanya bentuk kesopanan. Mungkin ia memperlakukan semua orang seperti itu, kataku dalam hati berusaha mengontrol diri agar tidak terbawa suasana dan perasaan yang mungkin hanya ku rasakan sendiri.
    Waktu berlalu begitu cepat, hubungan ini masih terjaga. Meski jarak masih membentang diantara kami, seakan-akan ada tembok besar yang ia bangun. Hanya berasumsi sendiri, menyimpulkan semuanya sendiri, bahwa kami adalah teman. Apa salahnya teman yang setia dalam suka dan duka?
   Terkadang menyesakkan, namun lebih baik sakit sekarang dibanding harus sakit nanti. Mencoba membiasakan diri dengan rasa sakit, berharap kelak tidak akan lagi merasakan perih sakitnya.Bukan karena aku ingin, tapi aku harus. Tak ada jalan lain sepertinya. Sudah menjadi hakikat bagi seorang perempuan. Menunggu... Hingga status mendapat kejelasan, apakah ini pertemanan atau bukan?  Sembari mencari jawaban akan pertanyaan yang berkecamuk dalam hati, sungguhkah apa yang ku rasakan ini? Mungkin saja aku salah memaknainya sebagai cinta.
     Telah ku persiapkan diriku untuk kehilangannya, meski aku berharap itu tidak akan terjadi.  Namun ketika aku berani untuk mencintainya bukankah aku juga harus berani untuk kehilangannya?
Toh aku sudah berusaha yang terbaik untuknya, sekarang aku menyerahkan seutuhnya padanya. Hidup adalah pilihan bukan? Aku telah memilihnya. Namun semua itu tak akan berarti apa-apa jika ia tak memilihku. Biarlah ia yang menjawabnya. Aku hanya akan menunggu hingga waktu membantu ku untuk mendapat kejelasan.
     Aku terlalu sering menunggu. Aku terlalu sering berharap. Berteman dengan kesakitan dan kesedihan. Dan untuk itu, aku hanya akan berpikir bahwa kami adalah teman. Mencoba membiasakan diri dengan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Hanya mencoba melogikakan perasaan. Meski hati kecil ku masih menyimpan asa~

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar