Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Ketika lisan tak mampu lagi menjelaskan segala rasa maka aku memilih tulisan untuk menjewantahkan segalanya...

ESCAPE



Malam ini sepi
Bukan karena tak ada keramaian
Hanya saja aku lebih memilih menghindarinya
Mengapa?
Aku hanya berharap bahwa dengan begini aku bisa membiasakan diri dengan kesepian
Kesepian yang kelak menjadi kawan ku
Ketika dunia ini berputar
Ketika kebebasan ini terenggut
Diam tanpa kata nyatanya membuat diri ini sesak
Rinduk akan dirinya
Rindu akan kita
Hanya bayangan tentang itulah yang terus terputar diingatanku
Rasa ini seakan nyaris membunuhku
Namun jika untuk hal seperti ini saja aku tak mampu, bagaimana nanti ketika kau benar telah pergi?
Harapan yang ku gantungkan seakan terbang jauh
Menghilang dibalik pendarnya sinar mentari di ufuk barat
Hangat sinarnya tak sehangat dirimu, tentu
Dinginnya embun juga tak sedingin sikapmu
Tatap mata mu membuat ku sadar
Bahwa kau bukan milikku, tidak sekarang, lalu bagaimana nanti?
Uluran lenganmu padanya menyetakkan ku
Bahwa aku bukan seseorang yang kau simpan dihatimu, tidak sekarang, lalu bagaimana dengan esok?
Hanya waktu, ya hanya waktu
Bahkan jikalau kini aku ingin memaksamu tak akan ada bedanya
Kini aku berada ditengah kesepian ku
Dan berharap waktu itu kan cukup untuk menyadarkan akan pentingnya aku bagimu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ANGIN SENJA


         
       Entah mengapa angin senja hari ini membuat ku menjadi melankolis. Mungkin benar bahwa tak hanya kesedihan yang mampu membuat seseorang menangis, bahkan angin yang terasa damai pun mampu membuatku menitikkan air mata. Sosoknya kembali menghantuiku. Hatiku yang hampa terasa makin kosong ketika mengenangnya.
     Teringat lirik salah satu lagu, “angin bawalah cintaku padanya”. Ya aku ingin angin menyampaikan rasa cintaku padanya. Sosok yang selama ini menjadi panutanku. Sosok yang amat sangat ku rindukan. Dia laki-laki sederhana dengan jiwa yang hangat. Kasih sayang dan cintanya pada sesama selalu ingin aku teladani. Namun bagiku, dia laki-laki yang malang. Laki-laki itu sangat mencintai kedua oangtuanya, terlebih lagi ibunya. Baginya, ibu adalah dunia yang dimilikinya. Masa mudanya ia habiskan untuk berjuang dan berusaha demi istri dan anak-anaknya di masa depan.  Hingga dunia sedikit berbaik hati padanya, ketika ia memiliki istri dan anak-anak yang sangat ia cintai, ia mampu membuktikan bahawa kerja kerasanya selama ini tidak sia-sia. Masa-masa dimana ia harus berjalan beratus-ratus kilometer hanya untuk menjual bedak tradisional buatannya terasa terbayarkan dengan kesuksesan yang diraihnya kini.
     Ia laki-laki lembut dan sangat penyayang. Rasa dingin yang menghigapiku segera menghilang ketika aku bersandar pada punggungnya yang hangat. Dan disaat-saat seperti itu, ia selalu bertanya padaku apakah aku baik-baik saja. aku tak yakin akankah ada seseorang yang seperti ia lagi di dunia ini? Jikalau boleh aku meminta, aku ingin memiliki seseorang sepertinya dalam hidupku dan untuk masa depanku. Tapi akankah dunia yang kejam dan tidak bermartabat ini akan mengabulkan keinginanku? Aku tak yakin. Bahkan untuk sesuatu yang mudahpun aku selalu berusaha jauh lebih kerasa dari yang lain agar bisa mendapatkannya. Lalu akankah dunia rela memberiku dirinya yang layaknya setes air di tengah gurun sahara?
          Aku sungguh merindukannya. Ada begitu banyak hal yang ingin aku tanyakan. Tapi kini ia telah pergi. Jauh jauh sangat jauh. Ke tempat yang bahkan  tak ku tahu rimbanya. Masih adakah ia? Atau ia telah menghilang seperti buih? Benarkah ia menantiku disana? Benarkah akan ada masa dimana kami akan bertemu namun saling mengacuhkan?
        Hatiku terasa ingin meledak ketika mengenangnya. Aku marah, jiwa dan ragaku seakan ingin memberontak. Tapi aku percaya satu hal. Benar bahwa ia sudah tiada, namun cintanya masih bersemi di dunia. Mungkin hanya aku dan beberapa oranglain yang kurang beruntung yang tak mampu lagi menerima hangat dan damainya ketulusan hatinya. Namun ketika aku membuka mata dan sedikit peka pada dunia di sekelilingku, aku masih mampu meraba kehadirannya.
          Di salah satu halte di kota ini, aku sering berjumpa dengan sosoknya. Sosok yang sama seperti ia yang sangat ku rindukan. Laki-laki yang sering kujumpai di halte itu, mengingatkan ku padanya.  Laki-laki di halte itu walau dengan baju dan tampilannya yang tak karuan, aku mampu merasakan pancaran cintanya pada sosok kecil yang seringkali berlari mengejar dan merengek padanya. Bocah kecil lugu nan beruntung. Ia masih memiliki matahari kehidupannya. Berbeda dengan diriku yang malang yang telah kehilangan matahari bahkan mungkin seisi dunia. Laki-laki di halte itu, dengan tangannya yang besar, kasar dan kokoh siap merengkuh sosok kecil yang sangat ia cintai. Melindungi dan berusaha memenuhi setiap keinginan yang dilontarkan dari mulut kecil bocah itu. sungguh pemandangan yang begitu indah bagi orang seperti ku.
         Angin senja yang kurasakan kini berubah menjadi tetes-tetes hujan yang turun dari langit. Mungkin langit sangat memahami perasaanku. Hingga ia pun menurunkan air yang dikandungnya demi membiaskan suara tangisku. Hanya tangisan yang menjadi pelarian ku ketika segala beban telah mencapai titik puncaknya. Namun akankah tangisan ini mampu mengobati perihnya hatiku? Tidak, tidak sama sekali. Bahkan seisi duniapun tak akan mampu menggantikan ia di hatiku, tak akan mampu mengalihkan rasa cinta dan rinduku.
       Senja yang indah tak seindah perjalanan hidupku. Senja yang damai tak sedamai nurani ku. Setiap hari kulalui dengan doa dan usaha. Senantiasa berharap akan janji Tuhan pada ummat-Nya. Bukankah tiada yang lebih kuasa dibanding diri-Nya Sang Maha Perkasa? Aku tak tahu kapan takdir baik akan berpihak padaku. Yang ku tahu, aku harus melalui hari ini dengan menyelesaikan kuliahku dan seluruh tanggung jawab yang diamanahkan padaku. Aku tak tahu bagaimana hidupku besok atau lusa. Yang ku tahu, aku harus melalui hari ini tanpa rasa lapar dan tanpa rasa khawatir kedinginan karena hujan atau kepanasan karena terik matahari

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

AYAH



          Hari itu senin, 19 November 2007. Bagi sebagian orang mungkin hari itu hanya hari biasa seperti hari-hari sebelumnya. Tapi tidak bagi saya, bagi kami. Hari itu seseorang yang amat saya cintai dipanggil Sang Kuasa. Jika kalian bertanya hari terburuk dalam hidup saya, maka saya akan menjawab hari itu. Jika kalian bertanya hari apa yang begitu ingin saya ubah, maka saya akan menjawab hari itu. jika kalian bertanya hari apa yang paling saya benci dalam hidup saya, maka saya akan menjawab hari itu.
             Hari itu saya dan ketiga saudara saya memiliki status baru. Anak yatim. Bukan status yang bisa kami banggakan, bukan pula status yang membaikkan bagi kami. Anak yatim, sungguh ironis. Ketika sehari sebelumnya kami masih memiliki ayah, walau dalam keadaan sedih dan berdoa untuk kesembuhan Beliau. Ketika seminggu sebelumnya kami masih bercengkrama hangat, walau mungkin hati ayah begitu pilu saat itu.
          Katanya, kematian itu perpisahan. Tapi sungguh saya berharap, diakhirat kelak saya bisa memiliki Beliau sebagai ayah saya lagi. Sehingga kematian Beliau bisa menjadi awal keabadian untuk kami. Tahukah kalian arti ayah? Saya percaya hanya sebagian dari kita yang bisa menjawabnya dengan sungguh-sungguh. Sebagian lain saya rasa hanya menjawab teoritis. Ayah itu idola, ayah itu pahlawan, atau ayah adalah pria paling tampan. Tapi bagi saya yang tidak lagi memiliki ayah, ayah adalah segala yang saya inginkan.
       Ketika berhadapan dengan masalah, yang terlintas pertama kali di pikiran saya adalah Beliau. Seandainya Ayah ada disini, nasehat apa yang akan Beliau berikan? Ketika menginginkan sesuatu, juga Ayahlah yang selalu terbayang. Seandainya Beliau masih hidup, tentu Beliau akan memenuhi  segala keinginan saya. Ketika dimarahi ibu, sungguh saya merindukan ayah. Seandainya ayah ada disini, saya ingin bersembunyi dibalik punggungnya dan menangis disana.  Dan ketika keadaan menjadi tidak terkendali, saat kesedihan dan kesusahan melanda maka ayahlah yang begitu saya harapkan. Rasanya segala kesulitan ini terjadi karena saya tidak memiliki ayah.
          Perasaan ini sering menghantui saya. Bahkan ketika menulis tentang ayah, saya bisa menangis tak karuan.  Masihkah ayah adalah pria paling tampan di dunia? Tidak. Ayah adalah segalanya. Ayah adalah dunia. Seringkali saya merasa jahat dan tersudut. Hingga menjadikan ketiadaan ayah adalah penyebab segala kesulitan hidup saya. Takdir, duhai takdir. Mengapa harus saya? Mengapa harus ayah saya? Mengapa harus kami? Tidak adakah sedikit keringanan bagi kami? Hal ini seringkali berkecamuk dipikiran saya. Dan sungguh saya takut, berdosa kah saya? Salah kah saya? Saya takut kemarahan dan keputusasaan saya hanya membuat ayah saya tidak tenang disisi-Nya. Saya takut teriakan batin saya ini membuat ayah sedih melihat saya. Seandainya ayah ada disini, ia pasti akan memeluk dan menyeka air mata saya.
          Saya hanya bisa menulis dan menceritakan perasaan saya yang kehilangan ayah. Bagi kalian yang mungkin tidak lagi memiliki ibu, ibu pasti adalah dunia kalian. Bagi kalian yang tidak lagi memiliki ayah dan ibu, maka saya pikir sebagian dunia kalian telah hilang. Inilah kami, anak yatim. Hal yang begitu mudah dijumpai pada setiap sudut kota. Anak yang tidak lagi memiliki ayah, anak yang tidak lagi memiliki ibu atau anak yang tidak lagi memiliki dunianya, ayah dan ibu. Lalu bagi kalian yang begitu bersedih kehilangan kekasih? Ah sungguh saya ingin berteriak pada kalian. Kekasih? Apa arti kekasih bagi kalian? Cinta? Maka saya rasa kalian belum benar-benar mengetahui arti kehidupan.
            19 Nobember 2007. Pagi itu cerah, tapi petir dan badai menerpa saya, menerpa kami. Sanggupkah kami? Saya rasa karena janji Tuhan bahwa Ia tak akan memberi cobaan melebihi kemampuan makhluknya adalah semilir angin bagi kami. Percayakah kalian akan janji Nya tersebut? saya rasa kembali pada kepercayaan kita masing-masing. Tapi 1 hal yang pasti, benar atau tidak, janji tersebut mampu menguatkan dan menopang kami saat itu. Hanya Asma-Nya yang kami lafalkan sembari berusaha ikhlas dengan kepergian Ayah dari sisi kami.
            Saat itu saya yakin setiap mata menatap kami. Menatap kesedihan dan tumpahan air mata kami yang meluap. Tanpa malu, saya menangis. Dengan tangisan pilu yang saya rasa mampu meledakkan hati saya saat itu. Ayah tak ada lagi di dunia ini. Tak akan pernah kembali, selamanya, apapun yang terjadi.
         Saat itu saya masih berusia kurang lebih 15 tahun. Cukupkah usia saya ketika ayah dipanggil Sang kuasa? Tentu tidak. Saat itu saya sangat membutuhkan ayah. Ketika krisis jati diri tengah melanda saya yang mulai beranjak remaja. Ketika saya butuh perlindungan lebih dari ayahnya. ketika saya butuh rangkulan hangat ayah. ketika anak perempuan begitu ingin mendekap erat ayahnya, dan beliau berkata bahwa saya sudah dewasa sekarang. Tidak bisa lagi bersikap terlalu intim dengannya. Tidak bisa lagi tidur dengan memeluk dirinya. Apa yang salah? Hanya karena ketika itu saya sudah mengalami menstruasi pertama?  Menstruasi yang akhirnya menjadi penyebab saya tidak bisa menyolatkan ayah. Menstruasi yang menjadi penyebab saya tidak bisa mengantar ayah ke peristirahatan terakhirnya.
             Saya rindu ayah, saya bahkan sangat rindu dimarahi olehnya T_T
           Bertahun tahun telah berlalu, kini Ayah telah pergi selama hampir 6 tahun. Hari itu hingga detik ini, saya selalu rela menukar nyawa saya dengan ayah saya. Bisakah saya melakukaknnya? Saya hanya manusia biasa. Mungkin Tuhan akan berkata “apa hak mu meminta hal demikian pada Ku ketika bahkan doa hamba Ku yang sholeh tak Ku kabulkan sementara keinginannya hidup lagi semata untuk beribadah kepada Ku?”. Ya benar saya hanya manusia biasa, gadis kecil yang penuh dosa.  “Why ?” lalu jika Tuhan berkata, “Why not?”
        Selama kurun waktu 6 tahun, saya hanya memimpikan ayah kurang dari 5 kali. Walau bayangan ayah senantiasa hadir dipikiran dan hati saya, entah mengapa saya sangat jarang memimpikan beliau. Saya hanya berharap ini pertanda bahwa beliau telah tenang di alam sana. Mendapatkan kebahagiaan yang selama ini belum pernah saya berikan pada Beliau. Merasakan kenikmatan yang jauh lebih nikmat dari apa yang telah Beliau beri pada kami semasa hidupnya.
    Diatas segalanya saya hanya berharap dan selalu berharap, Ayah menemukan kebahagiaan hakiki di Sisi-Nya. Aamiin Ya Rabb


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS