Hari
itu senin, 19 November 2007. Bagi sebagian orang mungkin hari itu hanya hari
biasa seperti hari-hari sebelumnya. Tapi tidak bagi saya, bagi kami. Hari itu
seseorang yang amat saya cintai dipanggil Sang Kuasa. Jika kalian bertanya hari
terburuk dalam hidup saya, maka saya akan menjawab hari itu. Jika kalian
bertanya hari apa yang begitu ingin saya ubah, maka saya akan menjawab hari
itu. jika kalian bertanya hari apa yang paling saya benci dalam hidup saya,
maka saya akan menjawab hari itu.
Hari
itu saya dan ketiga saudara saya memiliki status baru. Anak yatim. Bukan status
yang bisa kami banggakan, bukan pula status yang membaikkan bagi kami. Anak
yatim, sungguh ironis. Ketika sehari sebelumnya kami masih memiliki ayah, walau
dalam keadaan sedih dan berdoa untuk kesembuhan Beliau. Ketika seminggu
sebelumnya kami masih bercengkrama hangat, walau mungkin hati ayah begitu pilu
saat itu.
Katanya,
kematian itu perpisahan. Tapi sungguh saya berharap, diakhirat kelak saya bisa
memiliki Beliau sebagai ayah saya lagi. Sehingga kematian Beliau bisa menjadi
awal keabadian untuk kami. Tahukah kalian arti ayah? Saya percaya hanya
sebagian dari kita yang bisa menjawabnya dengan sungguh-sungguh. Sebagian lain
saya rasa hanya menjawab teoritis. Ayah itu idola, ayah itu pahlawan, atau ayah
adalah pria paling tampan. Tapi bagi saya yang tidak lagi memiliki ayah, ayah
adalah segala yang saya inginkan.
Ketika
berhadapan dengan masalah, yang terlintas pertama kali di pikiran saya adalah Beliau.
Seandainya Ayah ada disini, nasehat apa yang akan Beliau berikan? Ketika menginginkan
sesuatu, juga Ayahlah yang selalu terbayang. Seandainya Beliau masih hidup,
tentu Beliau akan memenuhi segala keinginan
saya. Ketika dimarahi ibu, sungguh saya merindukan ayah. Seandainya ayah ada
disini, saya ingin bersembunyi dibalik punggungnya dan menangis disana. Dan ketika keadaan menjadi tidak terkendali,
saat kesedihan dan kesusahan melanda maka ayahlah yang begitu saya harapkan.
Rasanya segala kesulitan ini terjadi karena saya tidak memiliki ayah.
Perasaan
ini sering menghantui saya. Bahkan ketika menulis tentang ayah, saya bisa
menangis tak karuan. Masihkah ayah
adalah pria paling tampan di dunia? Tidak. Ayah adalah segalanya. Ayah adalah
dunia. Seringkali saya merasa jahat dan tersudut. Hingga menjadikan ketiadaan
ayah adalah penyebab segala kesulitan hidup saya. Takdir, duhai takdir. Mengapa
harus saya? Mengapa harus ayah saya? Mengapa harus kami? Tidak adakah sedikit
keringanan bagi kami? Hal ini seringkali berkecamuk dipikiran saya. Dan sungguh
saya takut, berdosa kah saya? Salah kah saya? Saya takut kemarahan dan
keputusasaan saya hanya membuat ayah saya tidak tenang disisi-Nya. Saya takut
teriakan batin saya ini membuat ayah sedih melihat saya. Seandainya ayah ada
disini, ia pasti akan memeluk dan menyeka air mata saya.
Saya
hanya bisa menulis dan menceritakan perasaan saya yang kehilangan ayah. Bagi
kalian yang mungkin tidak lagi memiliki ibu, ibu pasti adalah dunia kalian.
Bagi kalian yang tidak lagi memiliki ayah dan ibu, maka saya pikir sebagian
dunia kalian telah hilang. Inilah kami, anak yatim. Hal yang begitu mudah
dijumpai pada setiap sudut kota. Anak yang tidak lagi memiliki ayah, anak yang
tidak lagi memiliki ibu atau anak yang tidak lagi memiliki dunianya, ayah dan
ibu. Lalu bagi kalian yang begitu bersedih kehilangan kekasih? Ah sungguh saya
ingin berteriak pada kalian. Kekasih? Apa arti kekasih bagi kalian? Cinta? Maka
saya rasa kalian belum benar-benar mengetahui arti kehidupan.
19
Nobember 2007. Pagi itu cerah, tapi petir dan badai menerpa saya, menerpa kami.
Sanggupkah kami? Saya rasa karena janji Tuhan bahwa Ia tak akan memberi cobaan
melebihi kemampuan makhluknya adalah semilir angin bagi kami. Percayakah kalian
akan janji Nya tersebut? saya rasa kembali pada kepercayaan kita masing-masing.
Tapi 1 hal yang pasti, benar atau tidak, janji tersebut mampu menguatkan dan
menopang kami saat itu. Hanya Asma-Nya yang kami lafalkan sembari berusaha
ikhlas dengan kepergian Ayah dari sisi kami.
Saat
itu saya yakin setiap mata menatap kami. Menatap kesedihan dan tumpahan air
mata kami yang meluap. Tanpa malu, saya menangis. Dengan tangisan pilu yang
saya rasa mampu meledakkan hati saya saat itu. Ayah tak ada lagi di dunia ini.
Tak akan pernah kembali, selamanya, apapun yang terjadi.
Saat
itu saya masih berusia kurang lebih 15 tahun. Cukupkah usia saya ketika ayah
dipanggil Sang kuasa? Tentu tidak. Saat itu saya sangat membutuhkan ayah.
Ketika krisis jati diri tengah melanda saya yang mulai beranjak remaja. Ketika
saya butuh perlindungan lebih dari ayahnya. ketika saya butuh rangkulan hangat
ayah. ketika anak perempuan begitu ingin mendekap erat ayahnya, dan beliau
berkata bahwa saya sudah dewasa sekarang. Tidak bisa lagi bersikap terlalu
intim dengannya. Tidak bisa lagi tidur dengan memeluk dirinya. Apa yang salah?
Hanya karena ketika itu saya sudah mengalami menstruasi pertama? Menstruasi yang akhirnya menjadi penyebab
saya tidak bisa menyolatkan ayah. Menstruasi yang menjadi penyebab saya tidak bisa
mengantar ayah ke peristirahatan terakhirnya.
Saya
rindu ayah, saya bahkan sangat rindu dimarahi olehnya T_T
Bertahun
tahun telah berlalu, kini Ayah telah pergi selama hampir 6 tahun. Hari itu
hingga detik ini, saya selalu rela menukar nyawa saya dengan ayah saya. Bisakah
saya melakukaknnya? Saya hanya manusia biasa. Mungkin Tuhan akan berkata “apa
hak mu meminta hal demikian pada Ku ketika bahkan doa hamba Ku yang sholeh tak
Ku kabulkan sementara keinginannya hidup lagi semata untuk beribadah kepada
Ku?”. Ya benar saya hanya manusia biasa, gadis kecil yang penuh dosa. “Why ?” lalu jika Tuhan berkata, “Why not?”
Selama
kurun waktu 6 tahun, saya hanya memimpikan ayah kurang dari 5 kali. Walau bayangan
ayah senantiasa hadir dipikiran dan hati saya, entah mengapa saya sangat jarang
memimpikan beliau. Saya hanya berharap ini pertanda bahwa beliau telah tenang
di alam sana. Mendapatkan kebahagiaan yang selama ini belum pernah saya berikan
pada Beliau. Merasakan kenikmatan yang jauh lebih nikmat dari apa yang telah
Beliau beri pada kami semasa hidupnya.
Diatas
segalanya saya hanya berharap dan selalu berharap, Ayah menemukan kebahagiaan
hakiki di Sisi-Nya. Aamiin Ya Rabb