Ia
masih berusia 7 tahun ketika ibunya harus pergi untuk selama-selamanya. Gadis
malang itu sungguh cantik. Dengan perwakannya yang elok ia mampu mengalihkan
dunia setiap pemuda yang melihatnya. Gadis itu bernama Ersa. Ersa gadis cantik
nan malang. Ketika usianya masih sangat belia, ia harus kehilangan ibu yang
sangat disayanginya dan juga harus menjadi ibu bagi tiga adik lelakinya. Namun apalah
daya gadis kecil itu, takdir telah berkata demikian. dengan kerinduan akan
sosok ibu yang mengisi hari-harinya, Ersa masih memiliki tanggung jawab untuk
menjaga dan membesarkan adik-adiknya. Ayah Ersa adalah sosok ayah yang tegas.
Beliau jarang menunjukkan kasih sayangnya kepada anak-anaknya meski didalam
hatinya ia sungguh sangat mengasihi keempat buah hatinya tsb.
Suatu
pagi Ersa terbangun karena mimpi yang dialaminya. ketika menyadari bahwa ia
hanya bermimpi, tak terasa air mata mengalir lembut dipipi kecilnya. Sungguh
melegakan, ungkap Ersa dalam hati. Dengan sedikit terburu-buru Ersa pun
bergegas bangun dan menyiapkan sarapan bagi ayah dan adik-adiknya. Ersa ketika
itu masih menginjak kelas 1 sd. Dengan seragam lusuh yang sehari-hari ia
kenakan ke sekolah, pagi itu Ersa berangkat ke sekolah dengan senyum mengembang
diwajahnya. Ya, Ersa adalah gadis yang dikenal periang. Selain itu ia juga
pandai dalam pelajaran.
Bertahun-tahun
kini telah terlewati. Selama itu pula Ersa tumbuh menajdi gadis menawan dan
dewasa. Jadi tidaklah heran jika kini Ersa menjadi kembang desa di kampungnya. Tidak
hanya dilamar oleh satu atau dua pemuda saja. Ersa juga seringkali dilamar oleh
empat pemuda sekaligus. Namun dengan pertimbangn-pertimbangan tertentu ayah Ersa
tidak menerima satupun lamaran untuk putri satu-satunya tsb. Hingga suatu
ketika seorang pemuda datang melamar Ersa. Dan tanpa disangka-sangka ayah Ersa pun
menerima lamaran pemuda tersebut. Ketika itu Ersa masih berusia 17 tahun.
dengan berat hati, Ersa harus meninggalkan sekolahnya dan menikah dengan pemuda
pilihan ayahnya. Ersa hanya berharap bahwa pernikahan ini akan menajdi titik
awal kehidupan baru untuknya yang lebih baik. Dan berharap bahwa pernikahan ini
adalah pernikahan pertama dan terakhir untuknya.
Pemuda
yang akan mempersunting Ersa bernama Tamsil. Ia pemuda yang baik dan sabar. Ia
telah mencintai Ersa untuk beberapa waktu yang cukup lama. Meski Ersa sendiri
hanya mengenal Tamsil sebagai pamannya. Tamsil adalah paman Ersa, jarak usia
mereka sekitar 6 tahun. Pernikahan dalam satu keluarga tentu bukanlah hal baru pada
saat itu, terutama bagi Ersa yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan masyarakat
desa yang masih sangat kental akan adat istiadat.
Tahun-tahun
pertama yang diajlani Ersa dan suaminya sangatlah berat. Hal ini karena pada
saat itu Tamsil belum memiliki pekerjaan yang baik dan mapan. Namun sebagi
wujud bakti seorang istri, Ersa tidak pernah mengeluh. Ia senantiasa mendukung
suamninya meski dalam hati kecilnya Ersa sangat ingin menjadi seseorang yang
segera sukses. Beberapa tahun pun terlewati. Kini Ersa dan suaminya telah
memiliki kehidupan yang baik. Ersa dan Tamsil telah memiliki 3 buah hati, 2
putra dan 1 putri. Dengan kegigihan, kerja keras, dan dukungan dari Ersa, Tamsil
selalu berupaya untuk menjadi suami dan ayah yang terbaik bagi anak-anaknya.
Seiring
berjalannya waktu, Ersa telah menjadi seorang istri dan ibu yang menawan. Hidup
Ersa kini dihiasi dengan kebahagiaan, anak-anak yang ia cintai dan suami yang
senantiasa disisinya. Dapat dikatakan bahwa titik puncak kebahagiaan Ersa telah
tercapai. Ersa bukan lagi kembang desa yang lugu nan polos. Ia telah berubah
menjadi istri dan ibu yang anggun dan menawan. Ersa yang dulu hanya bisa
sebatas menjaga dan membesarkan adik-adiknya kini telah berubah menjadi wanita
yang senantiasa memberi pertolongan bagi keluarganya.
Kehidupan
Ersa yang bahagia saat itu bukan berati Ersa tidak memiliki masalah. Dalam
kehidupannya Ersa senantiasa menjumpai kerikil-kerikil kecil dalam perjalanan
hidupnya. Namun dengan keberadaan Tamsil disisinya Ersa mampu melewati segala
halangan dan rintangan yang menghadangnya. Ersa yang masih sering dianggap
sebelah mata oleh banyak orang kini membuktikan bahwa ia mampu menjadi sosok
yang lebih baik dari mereka.
Namun
suatu ketika kebahagiaan ini tiba-tiba sirna. Setleah merasakan kepahitan
kehilangan seorang ibu diasaat usianya masih sangat muda, kini Ersa harus
merasakan pahitnya menjadi seorang janda. Tamsil suami yang sangat dikasihinya
telah dipanggil oleh Sang Kuasa. Bagaikan petir yang menyambar, Ersa sekali
lagi harus merasakan kehilangan yang sangat mendalam. Tamsil pergi dengan
meninggalkan 2 putra dan 1 putri. Sungguh sangat memilukan. Dunia seakan-akan
runtuh ketika itu terjadi. Ersa merasa bahwa takdir buruk tidak pernah lepas
dari dirinya.
Ersa
siap atau tidak siap harus menajdi ibu sekaligus ayah untuk anak-anaknya. hanya
dengan bermodalakn ijazah SMP, Ersa harus bekerja banting tulang demi
menghidupi ketiga anak-anaknya. Hanya untuk satu tujuan. Ia ingin melihat
anak-anaknya sukses. Impian yang cukup sederhana namun sangat sulit pada
kenyataannya. Kehidupan yang keras memaksa Ersa dan anak-anaknya bertahan hidup
dengan keadaan yang prihatin. Benar bahwa hidup bagaikan roda yang berputar.
Hal ini sungguh sangat dirasakan oleh Ersa dan anak-anaknya. Kehidupan meeka
yang dulunya nyaman kini telah berubah. Sungguh kesulitan hidup seakan tidak
pernah lepas dari kehidupan Ersa dan anak-anaknya. Waktu membuat Ersa berubah
menjadi wanita yang banyak dimusuhi oleh banyak orang. Dengan sikapnya yang
acuh dan naif Ersa tetap menerjang segala rintangan yang dihadapinya. Namun entah
kenapa, kesulitan bagai tak berujung. Hari-hari dilalui Ersa dengan sangat
menyakitkan. Ia kini sakit-sakitan dan tidak lagi mempunyai tenaga yang baik. Senyumnya
yang menawan seakan-akan sirna tertelan oleh keadaan. Mengapa keadaan bagai tak
mau bErsahabat padanya? Ersa diam-diam memendam perasaan sakit didalam hatinya.
Ia hanya ingin hidup bahagia dan sejahtera seperti wanita lainnya. Namun
mengapa keadannya makin hari makin memburuk? Bukankah setelah kesulitan pasti
ada kemudahan? salah apakah yang dimilkinya sehingga ia harus menjalani
kehidupan yang sangat berat? Ada bgitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di
pikiran dan di hati Ersa dan anak-anaknya. Namun hingga saat ini tak satupun
pertanyaan itu yang terjawab.
Tahukah
kalian? Aku adalah Ersa. Aku adalah sosok lain darinya. Ersa adalah sosok yang
sangat aku cintai. Bagi ku ia adalah sosok yang sempurna. Aku mencintai Ersa melebihi
cinta ku pada diriku sendiri. Aku mencintai Ersa, namun bukan berarti aku tak
pernah sekalipun marah padanya. Ada saat-saat dimana aku begitu marah akan
dunia, akan keadaan yang senantiasa menghimpit. Ersa bukan seseorang yang
menunjukkan cintanya melalui perhatian. Ia selalu punya caranya sendiri untuk
menunjukkan cintanya, meski menurutku cara yang dipakainya seringkali salah.
Aku sangat mencintai Ersa, namun bukan berarti aku ingin menjadi sepertinya.
Aku ingin menjadi seseorang yang lebih baik darinya. Jauh lebih baik. Aku
adalah sosok lain dari Ersa. Gadis malang yang kehilangan ibunya ketika berusia
masih sangat belia. Perempuan cantik dan menawan yang begitu tegar dalam
menjalani hidupnya.
Ersa
bukanlah sosok yang memberi banyak inspirasi bagi ku. Namun segala sesuatu
mengenai Ersa telah menjadi pelajaran berharga dalam kehidupan fana yang
kujalani. Ersa membuat ku tegar dalam menjalani hidupku. Ersa adalah peringatan
dalam kehidupanku. Ketika aku mulai lemah dan putus asa, bayang-bayang Ersa
senantiasa menghantui. Aku takut menjadi Ersa yang sebenarnya. Aku ingin lebih
baik darinya.
Seringkali
ketika aku merasa tak berdaya, Ersa datang menghampiriku dan menunjukkan padaku
kesusahan-kesusahan hidup yang ia jalani. Dengan segala keterbatasan yang
dimilikinya, ia berjuang dengan penuh air mata demi hidupnya dan demi hidup
ketiga buah hatinya. Sosok wanita yang begitu kuat. Sosok wanita pejuang yang
pernah aku temui. Ersa dan segala kisah tentangnya adalah pelajaran paling
berharga yang telah kudapatkan. Aku adalah sosok lain dari Ersa. Sebagian dari
aku adalah Ersa. Namun sungguh aku tidak ingin menjadi Ersa. Aku harus menjadi
seseorang yang jauh lebih baik darinya.





