Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Ketika lisan tak mampu lagi menjelaskan segala rasa maka aku memilih tulisan untuk menjewantahkan segalanya...

ERSA



            Ia masih berusia 7 tahun ketika ibunya harus pergi untuk selama-selamanya. Gadis malang itu sungguh cantik. Dengan perwakannya yang elok ia mampu mengalihkan dunia setiap pemuda yang melihatnya. Gadis itu bernama Ersa. Ersa gadis cantik nan malang. Ketika usianya masih sangat belia, ia harus kehilangan ibu yang sangat disayanginya dan juga harus menjadi ibu bagi tiga adik lelakinya. Namun apalah daya gadis kecil itu, takdir telah berkata demikian. dengan kerinduan akan sosok ibu yang mengisi hari-harinya, Ersa masih memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan membesarkan adik-adiknya. Ayah Ersa adalah sosok ayah yang tegas. Beliau jarang menunjukkan kasih sayangnya kepada anak-anaknya meski didalam hatinya ia sungguh sangat mengasihi keempat buah hatinya tsb.
            Suatu pagi Ersa terbangun karena mimpi yang dialaminya. ketika menyadari bahwa ia hanya bermimpi, tak terasa air mata mengalir lembut dipipi kecilnya. Sungguh melegakan, ungkap Ersa dalam hati. Dengan sedikit terburu-buru Ersa pun bergegas bangun dan menyiapkan sarapan bagi ayah dan adik-adiknya. Ersa ketika itu masih menginjak kelas 1 sd. Dengan seragam lusuh yang sehari-hari ia kenakan ke sekolah, pagi itu Ersa berangkat ke sekolah dengan senyum mengembang diwajahnya. Ya, Ersa adalah gadis yang dikenal periang. Selain itu ia juga pandai dalam pelajaran.
            Bertahun-tahun kini telah terlewati. Selama itu pula Ersa tumbuh menajdi gadis menawan dan dewasa. Jadi tidaklah heran jika kini Ersa menjadi kembang desa di kampungnya. Tidak hanya dilamar oleh satu atau dua pemuda saja. Ersa juga seringkali dilamar oleh empat pemuda sekaligus. Namun dengan pertimbangn-pertimbangan tertentu ayah Ersa tidak menerima satupun lamaran untuk putri satu-satunya tsb. Hingga suatu ketika seorang pemuda datang melamar Ersa. Dan tanpa disangka-sangka ayah Ersa pun menerima lamaran pemuda tersebut. Ketika itu Ersa masih berusia 17 tahun. dengan berat hati, Ersa harus meninggalkan sekolahnya dan menikah dengan pemuda pilihan ayahnya. Ersa hanya berharap bahwa pernikahan ini akan menajdi titik awal kehidupan baru untuknya yang lebih baik. Dan berharap bahwa pernikahan ini adalah pernikahan pertama dan terakhir untuknya.
            Pemuda yang akan mempersunting Ersa bernama Tamsil. Ia pemuda yang baik dan sabar. Ia telah mencintai Ersa untuk beberapa waktu yang cukup lama. Meski Ersa sendiri hanya mengenal Tamsil sebagai pamannya. Tamsil adalah paman Ersa, jarak usia mereka sekitar 6 tahun. Pernikahan dalam satu keluarga tentu bukanlah hal baru pada saat itu, terutama bagi Ersa yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan masyarakat desa yang masih sangat kental akan adat istiadat.
            Tahun-tahun pertama yang diajlani Ersa dan suaminya sangatlah berat. Hal ini karena pada saat itu Tamsil belum memiliki pekerjaan yang baik dan mapan. Namun sebagi wujud bakti seorang istri, Ersa tidak pernah mengeluh. Ia senantiasa mendukung suamninya meski dalam hati kecilnya Ersa sangat ingin menjadi seseorang yang segera sukses. Beberapa tahun pun terlewati. Kini Ersa dan suaminya telah memiliki kehidupan yang baik. Ersa dan Tamsil telah memiliki 3 buah hati, 2 putra dan 1 putri. Dengan kegigihan, kerja keras, dan dukungan dari Ersa, Tamsil selalu berupaya untuk menjadi suami dan ayah yang terbaik bagi anak-anaknya.
            Seiring berjalannya waktu, Ersa telah menjadi seorang istri dan ibu yang menawan. Hidup Ersa kini dihiasi dengan kebahagiaan, anak-anak yang ia cintai dan suami yang senantiasa disisinya. Dapat dikatakan bahwa titik puncak kebahagiaan Ersa telah tercapai. Ersa bukan lagi kembang desa yang lugu nan polos. Ia telah berubah menjadi istri dan ibu yang anggun dan menawan. Ersa yang dulu hanya bisa sebatas menjaga dan membesarkan adik-adiknya kini telah berubah menjadi wanita yang senantiasa memberi pertolongan bagi keluarganya.
            Kehidupan Ersa yang bahagia saat itu bukan berati Ersa tidak memiliki masalah. Dalam kehidupannya Ersa senantiasa menjumpai kerikil-kerikil kecil dalam perjalanan hidupnya. Namun dengan keberadaan Tamsil disisinya Ersa mampu melewati segala halangan dan rintangan yang menghadangnya. Ersa yang masih sering dianggap sebelah mata oleh banyak orang kini membuktikan bahwa ia mampu menjadi sosok yang lebih baik dari mereka.
            Namun suatu ketika kebahagiaan ini tiba-tiba sirna. Setleah merasakan kepahitan kehilangan seorang ibu diasaat usianya masih sangat muda, kini Ersa harus merasakan pahitnya menjadi seorang janda. Tamsil suami yang sangat dikasihinya telah dipanggil oleh Sang Kuasa. Bagaikan petir yang menyambar, Ersa sekali lagi harus merasakan kehilangan yang sangat mendalam. Tamsil pergi dengan meninggalkan 2 putra dan 1 putri. Sungguh sangat memilukan. Dunia seakan-akan runtuh ketika itu terjadi. Ersa merasa bahwa takdir buruk tidak pernah lepas dari dirinya.
            Ersa siap atau tidak siap harus menajdi ibu sekaligus ayah untuk anak-anaknya. hanya dengan bermodalakn ijazah SMP, Ersa harus bekerja banting tulang demi menghidupi ketiga anak-anaknya. Hanya untuk satu tujuan. Ia ingin melihat anak-anaknya sukses. Impian yang cukup sederhana namun sangat sulit pada kenyataannya. Kehidupan yang keras memaksa Ersa dan anak-anaknya bertahan hidup dengan keadaan yang prihatin. Benar bahwa hidup bagaikan roda yang berputar. Hal ini sungguh sangat dirasakan oleh Ersa dan anak-anaknya. Kehidupan meeka yang dulunya nyaman kini telah berubah. Sungguh kesulitan hidup seakan tidak pernah lepas dari kehidupan Ersa dan anak-anaknya. Waktu membuat Ersa berubah menjadi wanita yang banyak dimusuhi oleh banyak orang. Dengan sikapnya yang acuh dan naif Ersa tetap menerjang segala rintangan yang dihadapinya. Namun entah kenapa, kesulitan bagai tak berujung. Hari-hari dilalui Ersa dengan sangat menyakitkan. Ia kini sakit-sakitan dan tidak lagi mempunyai tenaga yang baik. Senyumnya yang menawan seakan-akan sirna tertelan oleh keadaan. Mengapa keadaan bagai tak mau bErsahabat padanya? Ersa diam-diam memendam perasaan sakit didalam hatinya. Ia hanya ingin hidup bahagia dan sejahtera seperti wanita lainnya. Namun mengapa keadannya makin hari makin memburuk? Bukankah setelah kesulitan pasti ada kemudahan? salah apakah yang dimilkinya sehingga ia harus menjalani kehidupan yang sangat berat? Ada bgitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikiran dan di hati Ersa dan anak-anaknya. Namun hingga saat ini tak satupun pertanyaan itu yang terjawab.
            Tahukah kalian? Aku adalah Ersa. Aku adalah sosok lain darinya. Ersa adalah sosok yang sangat aku cintai. Bagi ku ia adalah sosok yang sempurna. Aku mencintai Ersa melebihi cinta ku pada diriku sendiri. Aku mencintai Ersa, namun bukan berarti aku tak pernah sekalipun marah padanya. Ada saat-saat dimana aku begitu marah akan dunia, akan keadaan yang senantiasa menghimpit. Ersa bukan seseorang yang menunjukkan cintanya melalui perhatian. Ia selalu punya caranya sendiri untuk menunjukkan cintanya, meski menurutku cara yang dipakainya seringkali salah. Aku sangat mencintai Ersa, namun bukan berarti aku ingin menjadi sepertinya. Aku ingin menjadi seseorang yang lebih baik darinya. Jauh lebih baik. Aku adalah sosok lain dari Ersa. Gadis malang yang kehilangan ibunya ketika berusia masih sangat belia. Perempuan cantik dan menawan yang begitu tegar dalam menjalani hidupnya.
            Ersa bukanlah sosok yang memberi banyak inspirasi bagi ku. Namun segala sesuatu mengenai Ersa telah menjadi pelajaran berharga dalam kehidupan fana yang kujalani. Ersa membuat ku tegar dalam menjalani hidupku. Ersa adalah peringatan dalam kehidupanku. Ketika aku mulai lemah dan putus asa, bayang-bayang Ersa senantiasa menghantui. Aku takut menjadi Ersa yang sebenarnya. Aku ingin lebih baik darinya.
            Seringkali ketika aku merasa tak berdaya, Ersa datang menghampiriku dan menunjukkan padaku kesusahan-kesusahan hidup yang ia jalani. Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, ia berjuang dengan penuh air mata demi hidupnya dan demi hidup ketiga buah hatinya. Sosok wanita yang begitu kuat. Sosok wanita pejuang yang pernah aku temui. Ersa dan segala kisah tentangnya adalah pelajaran paling berharga yang telah kudapatkan. Aku adalah sosok lain dari Ersa. Sebagian dari aku adalah Ersa. Namun sungguh aku tidak ingin menjadi Ersa. Aku harus menjadi seseorang yang jauh lebih baik darinya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar