Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Ketika lisan tak mampu lagi menjelaskan segala rasa maka aku memilih tulisan untuk menjewantahkan segalanya...

PEREMPUAN YANG MENCINTAIMU



     Perempuan yang sedang jatuh cinta itu adalah aku. Dulu cinta ini membuatku menjadi bahagia teramat sangat, namun mengapa kini ia menjadikan ku dilanda gundah gulana? Aku sangat mencintaimu, mencintai segala yang ada padamu. Tapi ku rasa cintaku ini tak pernah sekalipun kau hargai, aku tak jua kau lihat dan tak pula kau dengar.
    Aku perempuan yang begitu mencintaimu, setiap hari nyaris setiap waktu menatap dan mendoakan mu dari kejauhan. Merindukan sembari berharap sambutan dan uluran tangan mu atas perasaan ku ini. Sadarkah kau? Bagimu hanya ada dia. Yang selalu kau pikirkan dan kau angan-angankan. Hingga cintaku ini tak pernah sedikitpun menjadi hal yang berharga bagimu. Aku tahu itu. Namun dengan bodohnya perasaan ku ini tak kunjung sirna. Hanya perih yang ku rasa. Sungguh, hatiku teramat sangat sakit karenanya.
    Aku hanya perempuan yang mencintaimu, apa hak ku untuk melarang atau bahkan mengatur perasaan mu? Ku mohon. Jika memang tak kan pernah ada ruang dihatimu untuk ku, maka katakanlah pada ku untuk pergi dari mu. Buatlah aku meninggalkan mu, hingga tak dapat ku temukan satupun alasan agar tetap disisi mu.
    Aku perempuan yang begitu mencintaimu, tak bisa kah kau belajar mencintaiku? Ada aku disini yang selalu setia menantimu. Namun mengapa yang kau tatap hanya ia yang telah menolak cintamu? Mengapa tak kau beri kesempatan pada hatimu agar bisa mencintaiku sama halnya kau pernah mencintainya?
    Aku perempuan yang mencintaimu dan kini menjadi perempuan yang amat terluka karena mu. Jika tak kan pernah bisa kau mencintaiku, maka usirlah aku dari hidupmu. Jangan menjadikanku teman yang begitu kau perhatikan, atau sebagai "hati" yang selalu kau permainkan. Buatlah aku pergi darimu, kini dan mungkin hingga nanti.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

GELANDANGAN, PENGEMIS & ANAK JALANAN DI KOTA MAKASSAR



Gelandangan, Pengemis dan Anak Jalanan di Kota Makassar

  Analisis Besar Masalah
      Salah satu permasalahan sosial yang kini banyak dijumpai dan membutuhkan penanganan yang serius yakni permasalahan mengenai gelandangan, pengemis dan anak jalanan yang ramai menghiasi ruas jalan di kota-kota besar. Mengingat jumlah penduduk Indonesia yang tinggi dan segala carut-marut permasalahan yang dimilikinya, tidaklah mengherankan jika jumlah gelandangan, pengemis dan anak jalanan di Indonesia cukup tinggi.
     Gelandangan, pengemis, dan anak jalanan ini dapat kita jumpai pada hampir setiap pelosok negeri ini. Terutama di kota-kota besar, misalnya saja di Kota Makassar. Banyaknya jumlah gelandangan, pengemis, dan anak jalanan  yang kerap kali terlihat memadati setiap perempatan dan ruas-ruas jalan utama bukan saja tidak sedap dipandang, melainkan menjadi isu serius yang perlu dicarikan jalan pemecahannya bersama. Kondisi di atas belum ditambah dengan kenyataan bahwa sebagian besar gelandangan, pengemis dan anak jalanan di kota Makassar dan bahkan mungkin di beberapa kota besar lainnya adalah orang-orang yang notabene bukan penduduk setempat.
    Dalam peraturan pemerintah yang dimaksud dengan gelandangan adalah orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap di wilayah tertentu dan hidup mengembara di tempat umum.
  Pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan pelbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Sedangkan anak jalanan Menurut Departemen Sosial RI (2005:5) anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari di jalanan, baik untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalan dan tempat-tempat umum lainnya. Anak jalanan mempunyai ciri-ciri, berusia antara 5 sampai dengan 18 tahun, melakukan kegiatan atau berkeliaran di jalanan, penampilannya kebanyakan kusam dan pakaian tidak terurus dan mobilitasnya tinggi.
    Di Kota Makassar sendiri, jumlah gelandangan, pengemis dan anak jalanan setiap tahunnya berfluktuasi. Berikut adalah data jumlah gelandangan, pengemis dan anak jalanan di Kota Makassar pada tahun 2009.

Tabel. Jumlah Gelandangan, Pengemis dan Anak Jalanan Menurut Kecamatan Di Kota Makassar 2009

Kode Wil
Kecamatan
Gelandangan, Pengemis
Anak Jalanan


010
Mariso

157

020
Mamajang

10
116

030
Tamalate

25
39

031
Rappocini

9
72

040
Makassar

23
133

050
Ujung Pandang
4
2

060
Wajo

3
2

070
Bontoala

8
40

080
Ujung Tanah

5
63

090
Tallo

10
24

100
Panakkukang

21
179

101
Manggala

2
13

110
Biringkanaya

4
5

111
Tamalanrea

20
25


Makassar
2009
144
870

7371
2008
340
869


2007
280
1407

                           Sumber : Dinas Sosial Kota Makassar.

       Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa pada tahun 2009 jumlah gelandangan dan pengemis terbanyak terdapat pada kecamatan tamalate yakni sebanyak 23 orang dan jumlah anak jalanan terbanyak terdapat pada kecamatan panakukang yakni 179 orang. Dengan total jumlah gepeng dan anjal di kota Makassar pada tahun 2009 yakni sebanyak 1014 orang.
     Untuk tahun 2011 jumlah gepeng dan anak jalanan menembus hingga 2000 orang dibandingkan tahun 2010 yang hanya sekitar 1200 orang.  Adapun data terakhir pada tahun 2012 lalu jumlah gepeng dan anjal mengalami penurunan, tercatat ada 990 Anjal dan Gepeng yang terdapat di Kota Makassar. Dari hasil penulusuran diketahui bahwa gepeng dan anjal tersebut berasal dari kabupaten Maros, Gowa dan Jeneponto.

Akar Masalah
            Permasalahan sosial tidak bisa dihindari keberadaanya dalam kehidupan masyarakat, terutama yang berada di daerah perkotaan yakni masalah gelandangan, pengemis dan anak jalanan. Permasalahan sosial gelandangan, pengemis dan anak jalanan merupakan akumulasi dari berbagai permasalahan yang terjadi. Mulai dari kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah, minimnya keterampilan kerja yang dimiliki, lingkungan, sosial budaya, kesehatan dan lain sebagainya.
Adapun gambaran permasalahan penyebab munculnya masalah sosial seperti gelandangan, pengemis dan anak jalanan dapat di uraikan sebagai berikut :
1.    Masalah kemiskinan.
Kemiskinan merupakan faktor dominan yang menyebabkan banyaknya gelandangan, pengemis dan anak jalanan. Kemiskinan dapat memaksa seseorang menjadi gelandangan karena tidak memiliki tempat tinggal yang layak, serta menjadikan mengemis sebagai pekerjaan. Selain itu anak dari keluarga miskin menghadapi risiko yang lebih besar untuk menjadi anak jalanan karena kondisi kemiskinan yang menyebabkan mereaka kerap kali kurang terlindungi.
2.    Maslah Pendidikan
Pada umumnya tingkat pendidikan gelandangan dan pengemis relatif rendah sehingga menjadi kendala bagi mereka untuk memperoleh pekerjaan yang layak.
3.    Masalah keterampilan kerja
Pada umumnya gelandangan dan pengemis tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan tuntutan pasar kerja.
4.    Masalah sosial budaya
Ada beberapa faktor sosial budaya yang menagkibatkan seseorang menjadi gelandangan dan pengemis. Antara lain:
a)    Rendahnya harga diri.
Rendahnya harga diri kepada sekelompok orang, mengakibatkan mereka tidak memiliki rasa malu untk meminta-minta.
b)    Sikap pasrah pada nasib.
Mareka manggap bahwa kemiskinan adalah kondisi mereka sebagai gelandangan dan pengemis adalah nasib, sehingga tidak ada kemauan untuk melakuan perubahan.
c)    Kebebasan dan kesenangan hidup mengelandang
             Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya anak jalanan menurut Departemen Sosial (2001: 25-26) ada 3 macam, yakni faktor pada tingkat mikro (immediate causes), faktor pada tingkat messo (underlying causes), dan faktor pada tingkat makro (basic causes).
a.    Tingkat Mikro (Immediate Causes)
Faktor pada tingkat mikro ini yaitu faktor yang berhubungan dengan anak dan keluarganya. Departemen Sosial (2001: 25-26) menjelaskan pula bahwa pada tingkat mikro sebab yang bisa diidentifikasi dari anak dan keluarga yang berkaitan tetapi juga berdiri sendiri. Selain itu, Odi Shalahudin (2004:71) menyebutkan pula faktor-faktor yang disebabkan oleh keluarga yakni sebagai berikut:
1.      Ekonomi
2.      Perceraian dan kehilangan orang tua
3.      Kekerasan keluarga
4.      Keterbatasan ruang dalam rumah
5.      Eksploitasi ekonomi
b.    Tingkat Messo (Underlying Causes)
Faktor-faktor penyebab munculnya anak jalanan pada tingkat messo ini yaitu faktor yang ada di masyarakat. Menurut Departemen Sosial RI (2001: 25-26), pada tingkat messo (masyarakat), sebab yang dapat diidentifikasi meliputi:
1.    Pada masyarakat miskin, anak-anak adalah aset untuk membantu peningkatan pendapatan keluarga, anak-anak diajarkan bekerja yang menyebabkan drop out dari sekolah.
2.    Pada masyarakat lain, urbanisasi menjadi menjadi kebiasaan dan anak-anak mengikuti kebiasaan itu.
3.     Penolakan masyarakat dan anggapan anak jalanan sebagai calon kriminal.
            Selain itu, Odi Shalahudin (2004:71) juga memaparkan faktor lingkungan munculnya anak jalanan yang bisa dikategorikan dalam faktor pada tingkat messo yakni sebagai berikut:
1.    Ikut-ikutan teman
2.    Bermasalah dengan tetangga atau komunitas
3.    Ketidakpedulian atau toleransi lingkungan terhadap keberadaan anak jalanan
c.    Tingkat Makro (Basic Causes)
Faktor-faktor penyebab munculnya anak jalanan pada tingkat makro yaitu faktor yang berhubungan dengan struktur makro. Departemen Sosial RI (2001: 25-26) menjelaskan bahwa pada tingkat makro (struktur masyarakat), sebab yang dapat diidentifikasi adalah:
1.    Ekonomi, adalah adanya peluang pekerjaan sektor informal yang tidak terlalu membutuhkan modal keahlian, mereka harus lama di jalanan dan meninggalkan bangku sekolah, ketimpangan desa dan kota yang mendorong urbanisasi. Migrasi dari desa ke kota mencari kerja, yang diakibatkan kesenjangan pembangunan desakota, kemudahan transportasi dan ajakan kerabat, membuatbanyak keluarga dari desa pindah ke kota dan sebagian dari mereka terlantar, hal ini mengakibatkan anak-anak mereka terlempar ke jalanan.
2.     Penggusuran dan pengusiran keluarga miskin dari tanah/rumah mereka dengan alasan “demi pembangunan”, mereka semakin tidak berdaya dengan kebijakan ekonomi makro pemerintah yang lebih memguntungkan segelintir orang.
3.    Pendidikan, adalah biaya sekolah yang tinggi, perilaku guru yang diskriminatif, dan ketentuan-ketentuan teknis dan birokratis yangmengalahkan kesempatan belajar. Meningkatnya angka anak putus sekolah karena alasan ekonomi, telah mendorong sebagian anak untuk menjadi pencari kerja dan jalanan mereka jadikan salah satu tempat untuk mendapatkan uang.
4.    Belum beragamnya unsur-unsur pemerintah memandang anak jalanan antara sebagai kelompok yang memerlukan perawatan (pendekatan kesejahteraan) dam pendekatan yang menganggap anak jalanan sebagai trouble maker atau pembuat masalah (security approach / pendekatan keamanan).
5.    Adanya kesenjangan sistem jaring pengamanan sosial sehingga jaring  pengamanan sosial tidak ada ketika keluarga dan anak menghadapi kesulitan.
6.    Pembangunan telah mengorbankan ruang bermain bagi anak (lapangan, taman, dan lahan-lahan kosong). Dampaknya sangat terasa pada daerah-daerah kumuh perkotaan, dimana anak-anak menjadikan jalanan sebagai ajang bermain dan bekerja.

Dampak Sosial
            Dengan adanya para gelandangan, pengemis dan anak jalanan yang berada di tempat-tempat umum akan menimbulkan banyak sekali masalah sosial di tengah kehidupan bermasyarakat di antaranya :
1.    Masalah lingkungan (tata ruang)
Gelandangan, pengemis dan anak jalanan pada umumnya tidak memiliki tempat tinggal tetap, tinggal di wilayah yang sebanarnya dilarang dijadika tepat tinggal, seperti : taman taman, bawah jembatan dan pingiran kali. Oleh karena itu keberadaan mereka di kota besar sangat mengangu ketertiban umum, ketenangan masyrakat dan kebersihan serta keindahan kota.
2.    Masalah kependudukan
Gelandangan, pengemis dan anak jalanan yang hidupnya berkeliaran di jalan dan tempat umum pada umumnya tidak memiliki kartu identitas (KTP/KK) yang tercatat di kelurahan (RT/RW) setempat. Selain itu sebagian besar dari mereka hidup bersama sebagai suami istri tanpa ikatan perkawinan yang sah sehingga menyulitkan pemerintah dalam melakukan pendataan kependudukan.
3.    Masalah keamanan dan ketertiban
Maraknya gelandangan, pengemis dan anak jalanan di suatu wilayah dapat menimbulkan kerawanan sosial serta dapat menggangggu keamanan dan ketertiban di wilayah tersebut.
4.    Masalah kriminalitas
Keberadaan gelandangan, pengemis dan anak jalanan yang sebagian besar memiliki tingkat ekonomi yang rendah dapat menjadi faktor yang menyebabkan mereka menghalalkan segala cara untuk dapat memenuhi segala kebutuhannya. Mulai dari pencurian, kekerasan, pelecehan seksual, dan lain sebagainya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS