Gelandangan, Pengemis
dan Anak Jalanan di Kota Makassar
Analisis Besar Masalah
Salah
satu permasalahan sosial yang kini banyak dijumpai dan membutuhkan penanganan
yang serius yakni permasalahan mengenai gelandangan, pengemis dan anak jalanan
yang ramai menghiasi ruas jalan di kota-kota besar. Mengingat jumlah penduduk
Indonesia yang tinggi dan segala carut-marut permasalahan yang dimilikinya,
tidaklah mengherankan jika jumlah gelandangan, pengemis dan anak jalanan di
Indonesia cukup tinggi.
Gelandangan,
pengemis, dan anak jalanan ini dapat kita jumpai pada hampir setiap pelosok
negeri ini. Terutama di kota-kota besar, misalnya saja di Kota Makassar. Banyaknya jumlah gelandangan, pengemis, dan anak
jalanan yang kerap kali terlihat
memadati setiap perempatan dan ruas-ruas jalan utama bukan saja tidak sedap
dipandang, melainkan menjadi isu serius yang perlu dicarikan jalan pemecahannya
bersama. Kondisi di atas belum ditambah dengan kenyataan bahwa sebagian besar
gelandangan, pengemis dan anak jalanan di kota Makassar dan bahkan mungkin di
beberapa kota besar lainnya adalah orang-orang yang notabene bukan penduduk
setempat.
Dalam peraturan pemerintah yang
dimaksud dengan gelandangan adalah orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan
norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai
tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap di wilayah tertentu dan hidup
mengembara di tempat umum.
Pengemis
adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka
umum dengan pelbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari
orang lain. Sedangkan anak jalanan Menurut Departemen Sosial RI (2005:5) anak
yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan kegiatan hidup
sehari-hari di jalanan, baik untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalan dan
tempat-tempat umum lainnya. Anak jalanan mempunyai ciri-ciri, berusia antara 5
sampai dengan 18 tahun, melakukan kegiatan atau berkeliaran di jalanan,
penampilannya kebanyakan kusam dan pakaian tidak terurus dan mobilitasnya
tinggi.
Di Kota
Makassar sendiri, jumlah gelandangan, pengemis dan anak jalanan setiap tahunnya
berfluktuasi. Berikut adalah data jumlah gelandangan, pengemis dan anak jalanan
di Kota Makassar pada tahun 2009.
Tabel. Jumlah
Gelandangan, Pengemis dan Anak Jalanan Menurut Kecamatan Di Kota Makassar 2009
|
Kode Wil
|
Kecamatan
|
Gelandangan, Pengemis
|
Anak Jalanan
|
|
|
|
010
|
Mariso
|
|
-
|
157
|
|
|
020
|
Mamajang
|
|
10
|
116
|
|
|
030
|
Tamalate
|
|
25
|
39
|
|
|
031
|
Rappocini
|
|
9
|
72
|
|
|
040
|
Makassar
|
|
23
|
133
|
|
|
050
|
Ujung Pandang
|
4
|
2
|
|
|
060
|
Wajo
|
|
3
|
2
|
|
|
070
|
Bontoala
|
|
8
|
40
|
|
|
080
|
Ujung Tanah
|
|
5
|
63
|
|
|
090
|
Tallo
|
|
10
|
24
|
|
|
100
|
Panakkukang
|
|
21
|
179
|
|
|
101
|
Manggala
|
|
2
|
13
|
|
|
110
|
Biringkanaya
|
|
4
|
5
|
|
|
111
|
Tamalanrea
|
|
20
|
25
|
|
|
|
Makassar
|
2009
|
144
|
870
|
|
|
7371
|
2008
|
340
|
869
|
|
|
|
2007
|
280
|
1407
|
|
Sumber : Dinas Sosial Kota Makassar.
Dari
tabel diatas, dapat diketahui bahwa pada tahun 2009 jumlah gelandangan dan
pengemis terbanyak terdapat pada kecamatan tamalate yakni sebanyak 23 orang dan
jumlah anak jalanan terbanyak terdapat pada kecamatan panakukang yakni 179
orang. Dengan total jumlah gepeng dan anjal di kota Makassar pada tahun 2009
yakni sebanyak 1014 orang.
Untuk
tahun 2011 jumlah gepeng dan anak jalanan menembus hingga 2000 orang
dibandingkan tahun 2010 yang hanya sekitar 1200 orang. Adapun data terakhir pada tahun 2012 lalu jumlah gepeng dan anjal mengalami penurunan, tercatat
ada 990 Anjal dan Gepeng yang terdapat di Kota Makassar. Dari hasil penulusuran
diketahui bahwa gepeng dan anjal tersebut berasal dari kabupaten Maros, Gowa
dan Jeneponto.
Akar Masalah
Permasalahan
sosial tidak bisa dihindari keberadaanya dalam kehidupan masyarakat, terutama
yang berada di daerah perkotaan yakni masalah gelandangan, pengemis dan anak
jalanan. Permasalahan sosial gelandangan, pengemis dan anak jalanan merupakan
akumulasi dari berbagai permasalahan yang terjadi. Mulai dari kemiskinan, tingkat
pendidikan yang rendah, minimnya keterampilan kerja yang dimiliki, lingkungan,
sosial budaya, kesehatan dan lain sebagainya.
Adapun gambaran permasalahan penyebab
munculnya masalah sosial seperti gelandangan, pengemis dan anak jalanan dapat
di uraikan sebagai berikut :
1.
Masalah
kemiskinan.
Kemiskinan
merupakan faktor dominan yang menyebabkan banyaknya gelandangan, pengemis dan
anak jalanan. Kemiskinan dapat memaksa seseorang menjadi gelandangan karena
tidak memiliki tempat tinggal yang layak, serta menjadikan mengemis sebagai
pekerjaan. Selain itu anak dari keluarga miskin menghadapi risiko yang lebih
besar untuk menjadi anak jalanan karena kondisi kemiskinan yang menyebabkan
mereaka kerap kali kurang terlindungi.
2.
Maslah
Pendidikan
Pada
umumnya tingkat pendidikan gelandangan dan pengemis relatif rendah sehingga
menjadi kendala bagi mereka untuk memperoleh pekerjaan yang layak.
3.
Masalah
keterampilan kerja
Pada
umumnya gelandangan dan pengemis tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan
tuntutan pasar kerja.
4.
Masalah
sosial budaya
Ada
beberapa faktor sosial budaya yang menagkibatkan seseorang menjadi gelandangan
dan pengemis. Antara lain:
a)
Rendahnya
harga diri.
Rendahnya
harga diri kepada sekelompok orang, mengakibatkan mereka tidak memiliki rasa
malu untk meminta-minta.
b)
Sikap
pasrah pada nasib.
Mareka
manggap bahwa kemiskinan adalah kondisi mereka sebagai gelandangan dan pengemis
adalah nasib, sehingga tidak ada kemauan untuk melakuan perubahan.
c)
Kebebasan
dan kesenangan hidup mengelandang
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
munculnya anak jalanan menurut Departemen
Sosial (2001: 25-26) ada 3 macam, yakni faktor pada tingkat mikro (immediate
causes), faktor pada tingkat messo (underlying causes), dan faktor
pada tingkat makro (basic causes).
a.
Tingkat
Mikro (Immediate Causes)
Faktor pada tingkat mikro
ini yaitu faktor yang berhubungan dengan anak dan keluarganya. Departemen
Sosial (2001: 25-26) menjelaskan pula bahwa pada tingkat mikro sebab yang bisa diidentifikasi
dari anak dan keluarga yang berkaitan tetapi juga berdiri sendiri. Selain itu,
Odi Shalahudin (2004:71) menyebutkan pula faktor-faktor yang disebabkan oleh
keluarga yakni sebagai berikut:
1.
Ekonomi
2.
Perceraian
dan kehilangan orang tua
3.
Kekerasan
keluarga
4.
Keterbatasan
ruang dalam rumah
5.
Eksploitasi
ekonomi
b.
Tingkat
Messo (Underlying Causes)
Faktor-faktor penyebab
munculnya anak jalanan pada tingkat messo ini yaitu faktor yang ada di
masyarakat. Menurut Departemen Sosial RI (2001: 25-26), pada tingkat messo
(masyarakat), sebab yang dapat diidentifikasi meliputi:
1.
Pada
masyarakat miskin, anak-anak adalah aset untuk membantu peningkatan pendapatan
keluarga, anak-anak diajarkan bekerja yang menyebabkan drop out dari
sekolah.
2.
Pada
masyarakat lain, urbanisasi menjadi menjadi kebiasaan dan anak-anak mengikuti
kebiasaan itu.
3.
Penolakan masyarakat dan anggapan anak jalanan
sebagai calon kriminal.
Selain itu, Odi Shalahudin (2004:71) juga memaparkan
faktor lingkungan munculnya anak jalanan yang bisa dikategorikan dalam faktor
pada tingkat messo yakni sebagai berikut:
1.
Ikut-ikutan
teman
2.
Bermasalah
dengan tetangga atau komunitas
3.
Ketidakpedulian
atau toleransi lingkungan terhadap keberadaan anak jalanan
c.
Tingkat
Makro (Basic Causes)
Faktor-faktor penyebab
munculnya anak jalanan pada tingkat makro yaitu faktor yang berhubungan dengan
struktur makro. Departemen Sosial RI (2001: 25-26) menjelaskan bahwa pada
tingkat makro (struktur masyarakat), sebab yang dapat diidentifikasi adalah:
1.
Ekonomi,
adalah adanya peluang pekerjaan sektor informal yang tidak terlalu membutuhkan
modal keahlian, mereka harus lama di jalanan dan meninggalkan bangku sekolah,
ketimpangan desa dan kota yang mendorong urbanisasi. Migrasi dari desa ke kota mencari
kerja, yang diakibatkan kesenjangan pembangunan desakota, kemudahan
transportasi dan ajakan kerabat, membuatbanyak keluarga dari desa pindah ke
kota dan sebagian dari mereka terlantar, hal ini mengakibatkan anak-anak mereka
terlempar ke jalanan.
2.
Penggusuran dan pengusiran keluarga miskin
dari tanah/rumah mereka dengan alasan “demi pembangunan”, mereka semakin tidak
berdaya dengan kebijakan ekonomi makro pemerintah yang lebih memguntungkan
segelintir orang.
3.
Pendidikan,
adalah biaya sekolah yang tinggi, perilaku guru yang diskriminatif, dan
ketentuan-ketentuan teknis dan birokratis yangmengalahkan kesempatan belajar.
Meningkatnya angka anak putus sekolah karena alasan ekonomi, telah mendorong
sebagian anak untuk menjadi pencari kerja dan jalanan mereka jadikan salah satu
tempat untuk mendapatkan uang.
4.
Belum
beragamnya unsur-unsur pemerintah memandang anak jalanan antara sebagai
kelompok yang memerlukan perawatan (pendekatan kesejahteraan) dam pendekatan
yang menganggap anak jalanan sebagai trouble maker atau pembuat masalah (security
approach / pendekatan keamanan).
5.
Adanya
kesenjangan sistem jaring pengamanan sosial sehingga jaring pengamanan sosial tidak ada ketika keluarga
dan anak menghadapi kesulitan.
6.
Pembangunan
telah mengorbankan ruang bermain bagi anak (lapangan, taman, dan lahan-lahan
kosong). Dampaknya sangat terasa pada daerah-daerah kumuh perkotaan, dimana
anak-anak menjadikan jalanan sebagai ajang bermain dan bekerja.
Dampak Sosial
Dengan
adanya para gelandangan, pengemis dan anak jalanan yang berada di tempat-tempat
umum akan menimbulkan banyak sekali masalah sosial di tengah kehidupan
bermasyarakat di antaranya :
1.
Masalah
lingkungan (tata ruang)
Gelandangan,
pengemis dan anak jalanan pada umumnya tidak memiliki tempat tinggal tetap,
tinggal di wilayah yang sebanarnya dilarang dijadika tepat tinggal, seperti :
taman taman, bawah jembatan dan pingiran kali. Oleh karena itu keberadaan mereka
di kota besar sangat mengangu ketertiban umum, ketenangan masyrakat dan
kebersihan serta keindahan kota.
2.
Masalah
kependudukan
Gelandangan,
pengemis dan anak jalanan yang hidupnya berkeliaran di jalan dan tempat umum
pada umumnya tidak memiliki kartu identitas (KTP/KK) yang tercatat di kelurahan
(RT/RW) setempat. Selain itu sebagian besar dari mereka hidup bersama sebagai
suami istri tanpa ikatan perkawinan yang sah sehingga menyulitkan pemerintah
dalam melakukan pendataan kependudukan.
3.
Masalah
keamanan dan ketertiban
Maraknya
gelandangan, pengemis dan anak jalanan di suatu wilayah dapat menimbulkan
kerawanan sosial serta dapat menggangggu keamanan dan ketertiban di wilayah
tersebut.
4.
Masalah
kriminalitas
Keberadaan
gelandangan, pengemis dan anak jalanan yang sebagian besar memiliki tingkat
ekonomi yang rendah dapat menjadi faktor yang menyebabkan mereka menghalalkan
segala cara untuk dapat memenuhi segala kebutuhannya. Mulai dari pencurian,
kekerasan, pelecehan seksual, dan lain sebagainya.