Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Ketika lisan tak mampu lagi menjelaskan segala rasa maka aku memilih tulisan untuk menjewantahkan segalanya...

AKULAH IA, PEREMPUAN BODOH


   Waktu terus berputar. Tanpa ku sadari aku telah melalui beberapa waktu yang mungkin akan menjadi sangat berharga bagiku atau malah yang akan menjadi penyesalanku dimasa depan. Semuanya ku jalani dengan upaya melakukan yang terbaik untuk ku, untuk mu, untuk kita. Aku tahu apa yang ku butuhkan saat ini, pun dengan apa yang ku inginkan. Aku hanya berusaha mewujudkannya, meski dengan ketakutan bahwa semua yang ku lakukan nanti hanya akan sia-sia. Tapi toh tetap saja ku lakukan, mengikuti kata hati begitu pembenaran ku.
    Setiap hari, kala mentari terbit, kala malam datang, ditengah kesendirian, ditengah keramaian, saat senang, saat sedih, selain Tuhan, hanya kamu yang selalu ku ingat. Berlebihankah? Mungkin saja. Namun bukan salahku jika hati ini bahkan tak ingin mendengar kata sang tuan akal. Berkali ku coba, membendung segala rasa, namun hanya berakhir luka. Aku bukan seseorang yang dengan mudah melupakan segala kepahitan hati, sungguh. Tahukah kau betapa sering ku ingin berlari untuk bersembunyi dan menangis?
   Aku hanya manusia biasa, perempuan bodoh lebih tepatnya. Hanya kau, yang selalu mengisi satu tempat di hati ini, meski tanpa pernah kau pinta sekalipun. Salahkah aku? Seandainya aku dapat memilih, sedari awal tak kan ku mulai semua permainan hati ini, melelahkan bagiku. Mencintai seseorang yang ku tahu hanya menganggap ku tak lebih dari seorang kawan. Namun di balik segala kelelahan itu, aku banyak belajar dari mu, aku banyak belajar untuk mu.
  Secara tak sadar, kau telah membentuk ku menjadi pribadi yang sebelumnya bukan aku. Namun bukan berarti dihadapmu aku tidak menjadi diriku sendiri. Aku hanya ingin berubah dan menjadi yang terbaik untukmu. Berharap dengan begitu, tak kan kau temukan celah untuk membiarkan perempuan lain merasuki hari dan hatimu.
    Ketika sepi datang dan rindu menyesakkan jiwa, ingin sekali ku berlari padamu dan menumpahkan segala isi hatiku. Namun aku takut, aku takut kau hanya akan berlari menjauh meninggalkan ku. Aku takut bila suatu saat aku tak tahu lagi keadaanmu. Aku takut bila akan ada waktunya kau tak lagi mengirimiku pesan singkat yang begitu mudah mengubah hariku.
   Aku rindu kamu, rindu kita yang dulu. Maaf jika perasaanku kini malah menjadikan kita pribadi yang dingin. Tak pernah terbersit niatku untuk membuatmu tidak nyaman. Aku hanya ingin menjadi mentari yang menghangatkan mu, atau menjadi air yang menyegarkan dahaga mu, atau menjadi pelangi yang mencerahkan harimu.
    Kau adalah tokoh utama dalam setiap tulisanku. Pernahkah kau menyadarinya? Kujadikan kau segalanya, nyaris disetiap waktu. Harap dan asa ku pada mu begitu melanglang jauh. Hingga bahkan tak ku temui lagi ujungnya. Jika kehadiranku hanya menjadi beban bagimu, bersediakah kau mengatakannya padaku dan menyuruhku pergi? Karena tanpa begitu, aku tak yakin bisa berpaling darimu. Karena tanpa begitu, aku akan selalu menemukan 1001 alasan agar aku tak jua meninggalkan mu. Aku membutuhkanmu, aku menginginkanmu, inginkan cintamu. Sadarkah kau? Adakah kesempatan itu didepan sana? Aku begitu lelah, namun cintaku tak kunjung sirna. Aku perempuan bodoh yang senantiasa menantimu, disini ditempat ini. Di jalan yang pernah kita lalui bersama. Akulah ia, perempuan bodoh yang masih dan akan selalu berharap atas cintamu. Kebodohan yang membuatku tergila-gila. Kebodohan yang darinya ku harapkan kebahagiaan. Dari mu dan untuk mu, tentang kita.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar