Waktu terus berputar. Tanpa ku sadari
aku telah melalui beberapa waktu yang mungkin akan menjadi sangat berharga
bagiku atau malah yang akan menjadi penyesalanku dimasa depan. Semuanya ku
jalani dengan upaya melakukan yang terbaik untuk ku, untuk mu, untuk kita. Aku
tahu apa yang ku butuhkan saat ini, pun dengan apa yang ku inginkan. Aku hanya
berusaha mewujudkannya, meski dengan ketakutan bahwa semua yang ku lakukan
nanti hanya akan sia-sia. Tapi toh tetap saja ku lakukan, mengikuti kata hati
begitu pembenaran ku.
Setiap
hari, kala mentari terbit, kala malam datang, ditengah kesendirian, ditengah
keramaian, saat senang, saat sedih, selain Tuhan, hanya kamu yang selalu ku
ingat. Berlebihankah? Mungkin saja. Namun bukan salahku jika hati ini bahkan
tak ingin mendengar kata sang tuan akal. Berkali ku coba, membendung segala
rasa, namun hanya berakhir luka. Aku bukan seseorang yang dengan mudah
melupakan segala kepahitan hati, sungguh. Tahukah kau betapa sering ku ingin
berlari untuk bersembunyi dan menangis?
Aku
hanya manusia biasa, perempuan bodoh lebih tepatnya. Hanya kau, yang selalu
mengisi satu tempat di hati ini, meski tanpa pernah kau pinta sekalipun.
Salahkah aku? Seandainya aku dapat memilih, sedari awal tak kan ku mulai semua
permainan hati ini, melelahkan bagiku. Mencintai seseorang yang ku tahu hanya
menganggap ku tak lebih dari seorang kawan. Namun di balik segala kelelahan
itu, aku banyak belajar dari mu, aku banyak belajar untuk mu.
Secara
tak sadar, kau telah membentuk ku menjadi pribadi yang sebelumnya bukan aku.
Namun bukan berarti dihadapmu aku tidak menjadi diriku sendiri. Aku hanya ingin
berubah dan menjadi yang terbaik untukmu. Berharap dengan begitu, tak kan kau
temukan celah untuk membiarkan perempuan lain merasuki hari dan hatimu.
Ketika
sepi datang dan rindu menyesakkan jiwa, ingin sekali ku berlari padamu dan
menumpahkan segala isi hatiku. Namun aku takut, aku takut kau hanya akan
berlari menjauh meninggalkan ku. Aku takut bila suatu saat aku tak tahu lagi keadaanmu.
Aku takut bila akan ada waktunya kau tak lagi mengirimiku pesan singkat yang
begitu mudah mengubah hariku.
Aku
rindu kamu, rindu kita yang dulu. Maaf jika perasaanku kini malah menjadikan
kita pribadi yang dingin. Tak pernah terbersit niatku untuk membuatmu tidak
nyaman. Aku hanya ingin menjadi mentari yang menghangatkan mu, atau menjadi air
yang menyegarkan dahaga mu, atau menjadi pelangi yang mencerahkan harimu.
Kau
adalah tokoh utama dalam setiap tulisanku. Pernahkah kau menyadarinya? Kujadikan
kau segalanya, nyaris disetiap waktu. Harap dan asa ku pada mu begitu
melanglang jauh. Hingga bahkan tak ku temui lagi ujungnya. Jika kehadiranku
hanya menjadi beban bagimu, bersediakah kau mengatakannya padaku dan menyuruhku
pergi? Karena tanpa begitu, aku tak yakin bisa berpaling darimu. Karena tanpa
begitu, aku akan selalu menemukan 1001 alasan agar aku tak jua meninggalkan mu.
Aku membutuhkanmu, aku menginginkanmu, inginkan cintamu. Sadarkah kau? Adakah kesempatan itu didepan
sana? Aku begitu lelah, namun cintaku tak kunjung sirna. Aku perempuan bodoh
yang senantiasa menantimu, disini ditempat ini. Di jalan yang pernah kita lalui
bersama. Akulah ia, perempuan bodoh yang masih dan akan selalu berharap atas cintamu. Kebodohan yang membuatku tergila-gila. Kebodohan yang darinya ku harapkan kebahagiaan. Dari mu dan untuk mu, tentang kita.






0 komentar:
Posting Komentar