Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Ketika lisan tak mampu lagi menjelaskan segala rasa maka aku memilih tulisan untuk menjewantahkan segalanya...

ANGIN SENJA


         
       Entah mengapa angin senja hari ini membuat ku menjadi melankolis. Mungkin benar bahwa tak hanya kesedihan yang mampu membuat seseorang menangis, bahkan angin yang terasa damai pun mampu membuatku menitikkan air mata. Sosoknya kembali menghantuiku. Hatiku yang hampa terasa makin kosong ketika mengenangnya.
     Teringat lirik salah satu lagu, “angin bawalah cintaku padanya”. Ya aku ingin angin menyampaikan rasa cintaku padanya. Sosok yang selama ini menjadi panutanku. Sosok yang amat sangat ku rindukan. Dia laki-laki sederhana dengan jiwa yang hangat. Kasih sayang dan cintanya pada sesama selalu ingin aku teladani. Namun bagiku, dia laki-laki yang malang. Laki-laki itu sangat mencintai kedua oangtuanya, terlebih lagi ibunya. Baginya, ibu adalah dunia yang dimilikinya. Masa mudanya ia habiskan untuk berjuang dan berusaha demi istri dan anak-anaknya di masa depan.  Hingga dunia sedikit berbaik hati padanya, ketika ia memiliki istri dan anak-anak yang sangat ia cintai, ia mampu membuktikan bahawa kerja kerasanya selama ini tidak sia-sia. Masa-masa dimana ia harus berjalan beratus-ratus kilometer hanya untuk menjual bedak tradisional buatannya terasa terbayarkan dengan kesuksesan yang diraihnya kini.
     Ia laki-laki lembut dan sangat penyayang. Rasa dingin yang menghigapiku segera menghilang ketika aku bersandar pada punggungnya yang hangat. Dan disaat-saat seperti itu, ia selalu bertanya padaku apakah aku baik-baik saja. aku tak yakin akankah ada seseorang yang seperti ia lagi di dunia ini? Jikalau boleh aku meminta, aku ingin memiliki seseorang sepertinya dalam hidupku dan untuk masa depanku. Tapi akankah dunia yang kejam dan tidak bermartabat ini akan mengabulkan keinginanku? Aku tak yakin. Bahkan untuk sesuatu yang mudahpun aku selalu berusaha jauh lebih kerasa dari yang lain agar bisa mendapatkannya. Lalu akankah dunia rela memberiku dirinya yang layaknya setes air di tengah gurun sahara?
          Aku sungguh merindukannya. Ada begitu banyak hal yang ingin aku tanyakan. Tapi kini ia telah pergi. Jauh jauh sangat jauh. Ke tempat yang bahkan  tak ku tahu rimbanya. Masih adakah ia? Atau ia telah menghilang seperti buih? Benarkah ia menantiku disana? Benarkah akan ada masa dimana kami akan bertemu namun saling mengacuhkan?
        Hatiku terasa ingin meledak ketika mengenangnya. Aku marah, jiwa dan ragaku seakan ingin memberontak. Tapi aku percaya satu hal. Benar bahwa ia sudah tiada, namun cintanya masih bersemi di dunia. Mungkin hanya aku dan beberapa oranglain yang kurang beruntung yang tak mampu lagi menerima hangat dan damainya ketulusan hatinya. Namun ketika aku membuka mata dan sedikit peka pada dunia di sekelilingku, aku masih mampu meraba kehadirannya.
          Di salah satu halte di kota ini, aku sering berjumpa dengan sosoknya. Sosok yang sama seperti ia yang sangat ku rindukan. Laki-laki yang sering kujumpai di halte itu, mengingatkan ku padanya.  Laki-laki di halte itu walau dengan baju dan tampilannya yang tak karuan, aku mampu merasakan pancaran cintanya pada sosok kecil yang seringkali berlari mengejar dan merengek padanya. Bocah kecil lugu nan beruntung. Ia masih memiliki matahari kehidupannya. Berbeda dengan diriku yang malang yang telah kehilangan matahari bahkan mungkin seisi dunia. Laki-laki di halte itu, dengan tangannya yang besar, kasar dan kokoh siap merengkuh sosok kecil yang sangat ia cintai. Melindungi dan berusaha memenuhi setiap keinginan yang dilontarkan dari mulut kecil bocah itu. sungguh pemandangan yang begitu indah bagi orang seperti ku.
         Angin senja yang kurasakan kini berubah menjadi tetes-tetes hujan yang turun dari langit. Mungkin langit sangat memahami perasaanku. Hingga ia pun menurunkan air yang dikandungnya demi membiaskan suara tangisku. Hanya tangisan yang menjadi pelarian ku ketika segala beban telah mencapai titik puncaknya. Namun akankah tangisan ini mampu mengobati perihnya hatiku? Tidak, tidak sama sekali. Bahkan seisi duniapun tak akan mampu menggantikan ia di hatiku, tak akan mampu mengalihkan rasa cinta dan rinduku.
       Senja yang indah tak seindah perjalanan hidupku. Senja yang damai tak sedamai nurani ku. Setiap hari kulalui dengan doa dan usaha. Senantiasa berharap akan janji Tuhan pada ummat-Nya. Bukankah tiada yang lebih kuasa dibanding diri-Nya Sang Maha Perkasa? Aku tak tahu kapan takdir baik akan berpihak padaku. Yang ku tahu, aku harus melalui hari ini dengan menyelesaikan kuliahku dan seluruh tanggung jawab yang diamanahkan padaku. Aku tak tahu bagaimana hidupku besok atau lusa. Yang ku tahu, aku harus melalui hari ini tanpa rasa lapar dan tanpa rasa khawatir kedinginan karena hujan atau kepanasan karena terik matahari

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar