Entah
mengapa angin senja hari ini membuat ku menjadi melankolis. Mungkin benar bahwa
tak hanya kesedihan yang mampu membuat seseorang menangis, bahkan angin yang
terasa damai pun mampu membuatku menitikkan air mata. Sosoknya kembali
menghantuiku. Hatiku yang hampa terasa makin kosong ketika mengenangnya.
Teringat lirik salah satu lagu,
“angin bawalah cintaku padanya”. Ya aku ingin angin menyampaikan rasa cintaku
padanya. Sosok yang selama ini menjadi panutanku. Sosok yang amat sangat ku
rindukan. Dia laki-laki sederhana dengan jiwa yang hangat. Kasih sayang dan
cintanya pada sesama selalu ingin aku teladani. Namun bagiku, dia laki-laki
yang malang. Laki-laki itu sangat mencintai kedua oangtuanya, terlebih lagi
ibunya. Baginya, ibu adalah dunia yang dimilikinya. Masa mudanya ia habiskan
untuk berjuang dan berusaha demi istri dan anak-anaknya di masa depan. Hingga dunia sedikit berbaik hati padanya,
ketika ia memiliki istri dan anak-anak yang sangat ia cintai, ia mampu
membuktikan bahawa kerja kerasanya selama ini tidak sia-sia. Masa-masa dimana
ia harus berjalan beratus-ratus kilometer hanya untuk menjual bedak tradisional
buatannya terasa terbayarkan dengan kesuksesan yang diraihnya kini.
Ia laki-laki lembut dan sangat
penyayang. Rasa dingin yang menghigapiku segera menghilang ketika aku bersandar
pada punggungnya yang hangat. Dan disaat-saat seperti itu, ia selalu bertanya
padaku apakah aku baik-baik saja. aku tak yakin akankah ada seseorang yang
seperti ia lagi di dunia ini? Jikalau boleh aku meminta, aku ingin memiliki
seseorang sepertinya dalam hidupku dan untuk masa depanku. Tapi akankah dunia
yang kejam dan tidak bermartabat ini akan mengabulkan keinginanku? Aku tak
yakin. Bahkan untuk sesuatu yang mudahpun aku selalu berusaha jauh lebih kerasa
dari yang lain agar bisa mendapatkannya. Lalu akankah dunia rela memberiku
dirinya yang layaknya setes air di tengah gurun sahara?
Aku sungguh merindukannya. Ada
begitu banyak hal yang ingin aku tanyakan. Tapi kini ia telah pergi. Jauh jauh
sangat jauh. Ke tempat yang bahkan tak
ku tahu rimbanya. Masih adakah ia? Atau ia telah menghilang seperti buih?
Benarkah ia menantiku disana? Benarkah akan ada masa dimana kami akan bertemu
namun saling mengacuhkan?
Hatiku terasa ingin meledak ketika
mengenangnya. Aku marah, jiwa dan ragaku seakan ingin memberontak. Tapi aku
percaya satu hal. Benar bahwa ia sudah tiada, namun cintanya masih bersemi di
dunia. Mungkin hanya aku dan beberapa oranglain yang kurang beruntung yang tak
mampu lagi menerima hangat dan damainya ketulusan hatinya. Namun ketika aku
membuka mata dan sedikit peka pada dunia di sekelilingku, aku masih mampu
meraba kehadirannya.
Di salah satu halte di kota ini, aku
sering berjumpa dengan sosoknya. Sosok yang sama seperti ia yang sangat ku
rindukan. Laki-laki yang sering kujumpai di halte itu, mengingatkan ku
padanya. Laki-laki di halte itu walau
dengan baju dan tampilannya yang tak karuan, aku mampu merasakan pancaran
cintanya pada sosok kecil yang seringkali berlari mengejar dan merengek
padanya. Bocah kecil lugu nan beruntung. Ia masih memiliki matahari
kehidupannya. Berbeda dengan diriku yang malang yang telah kehilangan matahari
bahkan mungkin seisi dunia. Laki-laki di halte itu, dengan tangannya yang
besar, kasar dan kokoh siap merengkuh sosok kecil yang sangat ia cintai.
Melindungi dan berusaha memenuhi setiap keinginan yang dilontarkan dari mulut
kecil bocah itu. sungguh pemandangan yang begitu indah bagi orang seperti ku.
Angin senja yang kurasakan kini berubah
menjadi tetes-tetes hujan yang turun dari langit. Mungkin langit sangat
memahami perasaanku. Hingga ia pun menurunkan air yang dikandungnya demi
membiaskan suara tangisku. Hanya tangisan yang menjadi pelarian ku ketika
segala beban telah mencapai titik puncaknya. Namun akankah tangisan ini mampu
mengobati perihnya hatiku? Tidak, tidak sama sekali. Bahkan seisi duniapun tak
akan mampu menggantikan ia di hatiku, tak akan mampu mengalihkan rasa cinta dan
rinduku.
Senja yang indah tak seindah
perjalanan hidupku. Senja yang damai tak sedamai nurani ku. Setiap hari
kulalui dengan doa dan usaha. Senantiasa berharap akan janji Tuhan pada
ummat-Nya. Bukankah tiada yang lebih kuasa dibanding diri-Nya Sang Maha
Perkasa? Aku tak tahu kapan takdir baik akan berpihak padaku. Yang ku tahu, aku
harus melalui hari ini dengan menyelesaikan kuliahku dan seluruh tanggung jawab
yang diamanahkan padaku. Aku tak tahu bagaimana hidupku besok atau lusa. Yang
ku tahu, aku harus melalui hari ini tanpa rasa lapar dan tanpa rasa khawatir
kedinginan karena hujan atau kepanasan karena terik matahari






0 komentar:
Posting Komentar