Rasanya begitu menyesakkan. Rindu yang
ku pendam seakan mampu meruntuhkan seisi dunia. Pada siapa akan ku adu
kerinduan ini? menangis tak ada gunanya, hanya semakin menunjukkan sisi
kelemahan yang kumiliki. Aku begitu mrindukannya, seakan dadaku sesak bahkan
untuk bernafas dan menghirup udara kehidupan.
Sudah bertahun-tahun, tapi sakitnya
masih amat berbekas dan semacam abadi dihati dan pikiranku. Aku rindu bapak,
sangat merindukannya. Saat mencapai klimaks kerinduan ini, ingin sekali rasanya
aku berlari ke pusaranya. Jauhh, sangat jauh. Baik pusara maupun kehadiran
bapak. Semuanya kini semu dan hanya menyisakan keperihan yang mendalam. Andai bapak
masih ada, andai....
Aku tak tahu apa kesalahan yang telah
kuperbuat hingga aku dihukum Tuhan sedemikian rupa, tidakkah aku akan diberi
kesempatan untuk berbahagia? Namun kebahagiaan yang ku inginkan adalah
kehadiran bapak, kebahagiaan yang tentu tak akan pernah ku dapatkan.
Bertahun-tahun telah berlalu, namun hati masih terpaut akan masa lalu.
Kebahagiaan keluarga yang sempurna yang sempat ku miliki kini hanyalah
kenangan. Bayang-bayang yang senantiasa menarikku untuk hidup keterbelakangan.
Ah, dunia begitu kejam buatku. Bagi aku,
ibu dan saudara-saudara yang teramat sangat ku sayangi. Aku tahu, sangat tahu.
Bahwa dimana ada pertemuan maka disitu akan ada perpisahan. Tapi bukankah Ia
berjanji bahwa apa yang hilang akan diganti dengan yang jauh lebih baik?
Benarkah? Katanya bahkan bintang membutuhkan
kegelapan agar terus nampak bersinar. Apakah aku semacam bintang yang
membutuhkan kesedihan agar terus nampak tegar? Ku mohon, sudahi segalanya. Aku
hanya ingin hidup bahagia seperti perempuan normal seusiaku. Aku lelah, sangat
lelah. Aku mulai tumbang melawan dunia ini. Masihkah aku sempat menemukan
kebahagiaan sebelum kesedihan mematikan jiwa ku?
Dari sekian banyak buku yang ku baca,
dari sekian banyak motivasi yang ku dengar, dari sekian banyak guru kehidupan
yang ku temui, tidakkah itu cukup untuk membuatku bahagia dan bersyukur? Syukur
duhai syukur. Ikhlas duhai ikhlas. Mengapa begitu sulit bagiku? Teramat sangat
mudah mengucapkankannya, namun tak semudah itu untuk melakukannya.
Berkali ku coba, tapi toh sisi kelemahan
ini sering menampakkan dirinya. Memasuki interval terbawah ini, rasanya semua
tak berarti. Siapalah aku ini? “aku orang yang sangat penting” “aku bukan
siapa-siapa”. Kedua jawaban itu kudengar
dari dalam diriku. Tapi sampai akhir aku tak jua menemukan jawaban mana yang
benar bagiku. Mengapa? Karena semua selalu ku akhiri dengan tertidur.
Menitipkan jiwa ku pada Tuhan yang Maha Besar. Mungkinkah jiwa ku dibelai-Nya?
Mungkinkah kepala ku dielus-Nya? Aku rindu kamu Tuhan, hadirlah dalam setiap
nafas ku. Sudahi segala sakitku. Tunjukkan aku jalan kebahagiaan yang ku
inginkan dan yang telah Kau rencakan. Buaknkah aku salah seorang hamba-Mu yang
begitu Engkau cintai?






0 komentar:
Posting Komentar