Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Ketika lisan tak mampu lagi menjelaskan segala rasa maka aku memilih tulisan untuk menjewantahkan segalanya...

RIO


    Semuanya masih begitu lekat diingatan. Kala itu aku jatuh cinta pada sosoknya yang sederhana, sosok yg nyaris setiap hari ku jumpai.

   Dia adalah teman semasa kuliah, teman dalam berbagi suka dan duka. Namanya Rio. Ketika itu Rio memiliki seorang kekasih, aku tahu, bahkan sangat tahu. Tapi tetap saja aku tak mampu membendung perasaan ku padanya.
    Hingga suatu ketika ia mengetahui rasa yang ku simpan ini dan tetiba semua berubah. Dunia menjadi lebih ceria, kampuspun menjadi tempat yang begitu menarik buatku. Rio mulai mendekatiku, meski ketika itu ia masih berstatus kekasih orang lain. Tp tak apalah, toh memang itu yg kuharapkan bahkan sangat kuharapkan. Hubungan Rio dan kekasihnya memang tak terlalu baik dan jujur aku sangat berharap mereka segera berpisah agar aku dan Rio dapat bersama.
    Bak dayung yang bersambut, hari itu aku tahu Rio telah putus dari kekasihnya. Beberapa saat berselang, aku dan Rio pun resmi menjadi sepasang kekasih. Hubungan kami baik-baik saja. Rio adalah sosok yang begitu sabar menghadapiku, dibanding mantan kekasihku yang lain Rio lah yang paling setia menungguku tanpa omelan tanpa amarah.
   Namun semua itu seketika berubah setelah aku mendapati percakapan Rio dengan salah seorang temannya. Rio meminta dicarikan seorang perempuan, seorang calon pacar baru mungkin. Amarahku membludak, kepercayaan ini runtuh sudah, sosok yang selama ini ku banggakan ternyata berlaku buruk dibelakang ku. Kejadian ini memang tak membuat tali kasihku dengan Rio putus, namun segalanya telah berubah. Aku menjadi lebih cemburuan, sering berpikir negatif bahkan menajdi sering marah padanya. Hubungan kami berubah menjadi dingin. Aku yang seringkali dianggap cuek oleh Rio, kini benar-benar merasa lelah akan semuanya. Kebiasaan Rio di media sosial yang seakan-akan begitu menderita menjalin hubungan denganku membuat tekadku semakin bulat, aku ingin memutuskan tali kasih ini.
   Hari itu, ku jalankan keinginanku untuk mengakhiri segalanya. Berharap dengan berakhirnya hubungan ini maka segala penderitaanpun ikut berakhir. Namun ternyata aku salah. Semua menjadi lebih buruk.  1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, aku belum mampu melupakan dan menghapus sosok Rio. Aku baru menyadari betapa aku sangat mencintainya. Sosok yang nyaris tiap hari kujumpai, yang seringkali berada sangat dekat denganku.
    Hubungan kami kini menjadi lebih rumit dan tentu lebih menyakitkan, terutama buatku. Sayup-sayup ku dengar kabar Rio dengan perempuan lain, berharap semua itu hanyalah kabar yang tak benar.Tak sanggup ku bendung perasaan ini, hingga aku memutuskan untuk berbicara empat mata dengan Rio.  Aku hanya ingin memperjelas semuanya, memperjelas hubungan ini. Benar kami sudah putus sedari beberapa bulan yang lalu, tapi semuanya belum berakhir. Rio berkata jika ia masih menyayangiku, pun dengan diriku yang masih menyayanginya.
    Setelah hari itu kami menjalani semuanya dari awal meski tak lagi ada peristiwa “tembak-menembak” atau deklarasi bahwa kami pacaran lagi.
    Bahagiakah aku? Iya, aku bahagia. Tapi aku tak yakin dengan Rio. Di kampus, didepan teman-teman, Rio seakan tak menganggapku ada. Pernah sekali kami bersama-sama berangkat ke kampus dan alangkah tercengangnya aku ketika rio seakan tak ingin dilihat berjalan masuk ke kampus bersamaku. Sikap Rio berubah, entah apa yang salah. Aku seakan disembunyikan, hubungan kami ditutup-tutupi. Di depan teman-teman, aku bak manusia transparan yang tak dianggap ada.  Rio pun menjadi jarang menghubungiku, malas membalas pesanku, terlebih untuk berbicara panjang lebar ditelepon dengan ku. Ia dingin, sangat dingin. Sikapnya begitu membuatku terluka.
    Berkali aku mengajaknya untuk bicara empat mata, namun ketika kami bertemu sikapnya bak kekasih yang begitu perhatian. Di belakang teman-teman kami tentunya. Hubungan kami nampak harmonis jika hanya ada kami, hanya kami berdua. Jauh berbeda jika dihadapan teman-teman kami. Sebenarnya apa yang salah? Tidakkah dia menyadari perasaanku padanya? Tidakkah dia menyadari betapa aku terluka karenanya?
Tak cukup dengan sikap Rio padaku, aku pun mendengar kabar yang mampu menyesakkan nuraniku. Rio dekat dengan seorang teman dari teman kami. Katanya mereka sering jalan berdua. Selama ini aku dianggap apa? Ketika ku tanyakan kebenaran kabar itu, Rio mengelak, ia mengaku bahwa perempuan itu hanyalah teman. Benarkah? Teman seperti apa? Teman yg mampu mengalihkan perhatian yang harusnya untuk ku tetapi diberikan kepadanya?
    Andai dapat aku memilih, ingin ku akhiri semua ini, perasaan menyesakkan yang ku rasakan setiap hari, aku terluka sungguh terluka. Aku ingin mengakhiri segalanya, namun aku tak tahu harus bagaimana. Ibarat perokok yang ingin berhenti merokok, keinginan dan niat ada, tapi entah harus bagaimana. Sama halnya dengan diriku saat ini. mampukah aku mengakhiri segala penderitaan ini? jika berakhir akankah lukanya benar-benar sembuh? Atau aku harus berjuang melawan sakit ini? Aku tak tahu.. Sungguh tak tahu...Inikah hukuman untuk ku karena pernah bersikap sangat acuh padanya?
    Kata orang, sekali kita kehilangan meskipun kita memilikinya kembali semua tak akan sama lagi. Apa ini juga berlaku untuk Rio?


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar