Semuanya
masih begitu lekat diingatan. Kala itu aku jatuh cinta pada sosoknya yang
sederhana, sosok yg nyaris setiap hari ku jumpai.
Dia
adalah teman semasa kuliah, teman dalam berbagi suka dan duka. Namanya Rio.
Ketika itu Rio memiliki seorang kekasih, aku tahu, bahkan sangat tahu. Tapi tetap
saja aku tak mampu membendung perasaan ku padanya.
Hingga
suatu ketika ia mengetahui rasa yang ku simpan ini dan tetiba semua berubah.
Dunia menjadi lebih ceria, kampuspun menjadi tempat yang begitu menarik buatku.
Rio mulai mendekatiku, meski ketika itu ia masih berstatus kekasih orang lain.
Tp tak apalah, toh memang itu yg kuharapkan bahkan sangat kuharapkan. Hubungan Rio
dan kekasihnya memang tak terlalu baik dan jujur aku sangat berharap mereka
segera berpisah agar aku dan Rio dapat bersama.
Bak
dayung yang bersambut, hari itu aku tahu Rio telah putus dari kekasihnya.
Beberapa saat berselang, aku dan Rio pun resmi menjadi sepasang kekasih.
Hubungan kami baik-baik saja. Rio adalah sosok yang begitu sabar menghadapiku,
dibanding mantan kekasihku yang lain Rio lah yang paling setia menungguku tanpa
omelan tanpa amarah.
Namun
semua itu seketika berubah setelah aku mendapati percakapan Rio dengan salah
seorang temannya. Rio meminta dicarikan seorang perempuan, seorang calon pacar
baru mungkin. Amarahku
membludak, kepercayaan ini runtuh sudah, sosok yang selama ini ku banggakan
ternyata berlaku buruk dibelakang ku. Kejadian ini memang tak membuat tali
kasihku dengan Rio putus, namun segalanya telah berubah. Aku menjadi lebih
cemburuan, sering berpikir negatif bahkan menajdi sering marah padanya. Hubungan
kami berubah menjadi dingin. Aku yang seringkali dianggap cuek oleh Rio, kini
benar-benar merasa lelah akan semuanya. Kebiasaan Rio di media sosial yang
seakan-akan begitu menderita menjalin hubungan denganku membuat tekadku semakin
bulat, aku ingin memutuskan tali kasih ini.
Hari
itu, ku jalankan keinginanku untuk mengakhiri segalanya. Berharap dengan
berakhirnya hubungan ini maka segala penderitaanpun ikut berakhir. Namun ternyata
aku salah. Semua menjadi lebih buruk. 1
bulan, 2 bulan, 3 bulan, aku belum mampu melupakan dan menghapus sosok Rio. Aku
baru menyadari betapa aku sangat mencintainya. Sosok yang nyaris tiap hari
kujumpai, yang seringkali berada sangat dekat denganku.
Hubungan
kami kini menjadi lebih rumit dan tentu lebih menyakitkan, terutama buatku.
Sayup-sayup ku dengar kabar Rio dengan perempuan lain, berharap semua itu
hanyalah kabar yang tak benar.Tak
sanggup ku bendung perasaan ini, hingga aku memutuskan untuk berbicara empat
mata dengan Rio. Aku hanya ingin
memperjelas semuanya, memperjelas hubungan ini. Benar kami sudah putus sedari
beberapa bulan yang lalu, tapi semuanya belum berakhir. Rio berkata jika ia
masih menyayangiku, pun dengan diriku yang masih menyayanginya.
Setelah
hari itu kami menjalani semuanya dari awal meski tak lagi ada peristiwa
“tembak-menembak” atau deklarasi bahwa kami pacaran lagi.
Bahagiakah
aku? Iya, aku bahagia. Tapi aku tak yakin dengan Rio. Di kampus, didepan
teman-teman, Rio seakan tak menganggapku ada. Pernah sekali kami bersama-sama
berangkat ke kampus dan alangkah tercengangnya aku ketika rio seakan tak ingin
dilihat berjalan masuk ke kampus bersamaku. Sikap Rio berubah, entah apa yang
salah. Aku seakan disembunyikan, hubungan kami ditutup-tutupi. Di depan
teman-teman, aku bak manusia transparan yang tak dianggap ada. Rio pun menjadi jarang menghubungiku, malas
membalas pesanku, terlebih untuk berbicara panjang lebar ditelepon dengan ku. Ia
dingin, sangat dingin. Sikapnya begitu membuatku terluka.
Berkali
aku mengajaknya untuk bicara empat mata, namun ketika kami bertemu sikapnya bak
kekasih yang begitu perhatian. Di belakang teman-teman kami tentunya. Hubungan
kami nampak harmonis jika hanya ada kami, hanya kami berdua. Jauh berbeda jika
dihadapan teman-teman kami. Sebenarnya apa yang salah? Tidakkah dia menyadari
perasaanku padanya? Tidakkah dia menyadari betapa aku terluka karenanya?
Tak
cukup dengan sikap Rio padaku, aku pun mendengar kabar yang mampu menyesakkan
nuraniku. Rio dekat dengan seorang teman dari teman kami. Katanya mereka sering
jalan berdua. Selama ini aku dianggap apa? Ketika ku tanyakan kebenaran kabar
itu, Rio mengelak, ia mengaku bahwa perempuan itu hanyalah teman. Benarkah?
Teman seperti apa? Teman yg mampu mengalihkan perhatian yang harusnya untuk ku tetapi
diberikan kepadanya?
Andai
dapat aku memilih, ingin ku akhiri semua ini, perasaan menyesakkan yang ku
rasakan setiap hari, aku terluka sungguh terluka. Aku ingin mengakhiri
segalanya, namun aku tak tahu harus bagaimana. Ibarat perokok yang ingin
berhenti merokok, keinginan dan niat ada, tapi entah harus bagaimana. Sama halnya
dengan diriku saat ini. mampukah aku mengakhiri segala penderitaan ini? jika
berakhir akankah lukanya benar-benar sembuh? Atau aku harus berjuang melawan sakit
ini? Aku tak tahu.. Sungguh tak tahu...Inikah
hukuman untuk ku karena pernah bersikap sangat acuh padanya?
Kata
orang, sekali kita kehilangan meskipun kita memilikinya kembali semua tak akan
sama lagi. Apa ini juga berlaku untuk Rio?






0 komentar:
Posting Komentar