Perempuan
itu adalah perempuan yang sungguh aneh. Ia berani jujur pada dirinya sendiri
bahwa ia mencintai seorang laki-laki yang bahkan belum pernah ia temui dalam
kehidupan nyata. Laki-laki yang hanya ia kenal melalui cerita salah seorang
temannya. Perempuan itu telah mendengar banyak kisah mengenai lelaki itu, dan
entah mengapa bayangan lelaki itu terus berkecamuk dalam pikirannya.
Suatu
ketika ia memimpikan sosok lelaki tersebut.
Mimpi yang membuat hatinya terasa sakit dan perih, karena dalam mimpinya
ia melihat bahwa lelaki yang sering diceritakan oleh temannya tersebut kembali
menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya dulu. Lantas apa yang salah? Bahkan
mengenal lelaki itu secara pribadipun tidak. Namun mengapa hatinya terasa aneh
ketika lelaki itu kembali ke pelukan mantan kekasihnya?
Hari
berganti hari, perempuan itu hanya mengacuhkan apa yang telah dialaminya. Namun
ternyata mimpi itu bukanlah mimpi yang terakhir baginya. Malam-malam berikutnya
sosok lelaki itu kembali hadir dalam mimpinya. Untuk kedua kali, ketiga kali,
dan entah sampai kapan. Membawa sebuah kisah yang tak bertepi dan sungguh aneh
diterima oleh akal sehatnya. Sejak saat itulah perempuan itu mulai risau akan
perasaan yang ia sendiri tak mengerti. Apakah hanya sebuah ketertarikan? Cinta?
Atau hanya penasaran?
Pada
suatu hari, ia memutuskan untuk memberanikan diri menyapa lelaki itu meski
hanya dalam dunia maya. Bermodalkan tekad yang cukup nekat, ia ingin mencari
jawaban atas hatinya yang akhir-akhir ini diluar kontrol akalnya. Mengapa
lelaki itu sering ia mimpikan? Ada apa dengan lelaki itu? mengapa hatinya
merasa sakit apabila lelaki itu kembali bersama mantan kekasihnya?
Kini
6 bulan telah berlalu sejak kejadian itu dan selama itu pula perempuan itu
menjalin komunikasi yang cukup intens dengan lelaki itu. Ah, penuh tawa dan
duka. Lelaki itu adalah sesorang yang begitu mudah membuatnya bahagia, pun
begitu mudah membuatnya tersiksa.
Suatu
ketika, di awal pagi yang cukup cerah. Perempuan itu tak sanggup lagi memendam
rasa ingin tahunya. Tak sanggup lagi menerka perasaan lelaki itu padanya.
Hingga ia putuskan untuk berani menanyakannya langsung. Tahukah? Katanya lelaki
itu hanya menganggapnya teman dekat. TEMAN. Hanya TEMAN
Bak
petir di pagi nan cerah, kenyataan itu sungguh mengguncangkan hati perempuan
itu. “Jadi selama ini cinta saya bertepuk sebelah tangan?” tanyanya dalam hati.
“Jika iya, lantas mengapa kau begitu
baik padaku? Perasaan cemburu yang dulu kau lontarkan, apakah itu juga termasuk
perasaan yang kau tujukan pada seseorang yang hanya kau anggap teman?” Ada
banyak pertanyaan yang berkecamuk dipikiran perempuan itu.
Bahkan saking perihnya kenyataan yang
harus ia terima, ketika dikampus perempuan itu jatuh sakit. Iya. Fisik dan
perasaannya sungguh sakit. Tak sanggup lagi ia emban.
Namun
keperihan itu tak berakhir disini. Entah mengapa perempuan itu masih menyimpan
asa disudut jiwanya. Tanamkan saja hal baik, maka tentu kita akan menuai buah
yang baik. Begitu menurutnya. Hal inilah yang selanjutnya menjadi kekuatan untuknya
agar tetap bertahan.
Beberapa
hari setelahnya, perempuan itu kembali merasakan sakit yang teramat sangat.
Ketika lelaki itu secara jelas mengatakan bahwa ia hanya mengganggap perempuan
itu sebagai teman kepada salah seorang sahabat perempuan itu. Haruskah ia
mengatakannya lagi?
Hari-hari
di masa itu dilewati perempuan itu dengan begitu berat. Air mata bukan lagi hal
yang langka. Selama hampir seminggu perempuan itu terus meneteskan air mata,
bahkan ketika di kelas dan kuliah berlangsung, ketika istirahat makan siang,
ketika waktu luang menunggu jam kuliah, dimanapun dan kapanpun. Tak ada lagi
malu yang tersisa. Dihadapan para sahabatnya ia terus saja menangis. Menangisi
seseroang yang begitu dicintainya. Menangisi seseroang yang begitu ia inginkan
dan ia harapkan.
Sampai
kapan? Bahkan setelah semua rasa sakit yang ia rasakan, hingga kini perempuan
itu masih berharap. Meski ia tak lagi seperti dulu. Rasa sakit yang memuncak
pada saat itu telah sedikit menegarkannya. Berusaha menyiapkan hatinya meski
untuk kemungkinan terburuk sekalipun.
Perempuan
itu hanya mencintai lelaki itu. Hingga tak sekalipun ia melirik dan membuka
hatinya untuk orang lain. Banyak cinta yang datang dan menawarkannya
kebahagiaan, tapi toh ditolaknya. Perempuan itu hanya mencintai lelaki itu.
Perempuan itu hanya menginginkan lelaki itu, bukan yang lain. Maka biarlah
waktu yang membantu untuk menjawab segalanya. Akahkah perasaan perempuan itu
terjaga ataukah terkikis oleh masa. Perempuan itu, hanya mengikuti kata
hatinya.






0 komentar:
Posting Komentar