Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Ketika lisan tak mampu lagi menjelaskan segala rasa maka aku memilih tulisan untuk menjewantahkan segalanya...

Perempuan dan lekaki itu



            Perempuan itu adalah perempuan yang sungguh aneh. Ia berani jujur pada dirinya sendiri bahwa ia mencintai seorang laki-laki yang bahkan belum pernah ia temui dalam kehidupan nyata. Laki-laki yang hanya ia kenal melalui cerita salah seorang temannya. Perempuan itu telah mendengar banyak kisah mengenai lelaki itu, dan entah mengapa bayangan lelaki itu terus berkecamuk dalam pikirannya.
            Suatu ketika ia memimpikan sosok lelaki tersebut.  Mimpi yang membuat hatinya terasa sakit dan perih, karena dalam mimpinya ia melihat bahwa lelaki yang sering diceritakan oleh temannya tersebut kembali menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya dulu. Lantas apa yang salah? Bahkan mengenal lelaki itu secara pribadipun tidak. Namun mengapa hatinya terasa aneh ketika lelaki itu kembali ke pelukan mantan kekasihnya?
            Hari berganti hari, perempuan itu hanya mengacuhkan apa yang telah dialaminya. Namun ternyata mimpi itu bukanlah mimpi yang terakhir baginya. Malam-malam berikutnya sosok lelaki itu kembali hadir dalam mimpinya. Untuk kedua kali, ketiga kali, dan entah sampai kapan. Membawa sebuah kisah yang tak bertepi dan sungguh aneh diterima oleh akal sehatnya. Sejak saat itulah perempuan itu mulai risau akan perasaan yang ia sendiri tak mengerti. Apakah hanya sebuah ketertarikan? Cinta? Atau hanya penasaran?
            Pada suatu hari, ia memutuskan untuk memberanikan diri menyapa lelaki itu meski hanya dalam dunia maya. Bermodalkan tekad yang cukup nekat, ia ingin mencari jawaban atas hatinya yang akhir-akhir ini diluar kontrol akalnya. Mengapa lelaki itu sering ia mimpikan? Ada apa dengan lelaki itu? mengapa hatinya merasa sakit apabila lelaki itu kembali bersama mantan kekasihnya?
            Kini 6 bulan telah berlalu sejak kejadian itu dan selama itu pula perempuan itu menjalin komunikasi yang cukup intens dengan lelaki itu. Ah, penuh tawa dan duka. Lelaki itu adalah sesorang yang begitu mudah membuatnya bahagia, pun begitu mudah membuatnya tersiksa.
            Suatu ketika, di awal pagi yang cukup cerah. Perempuan itu tak sanggup lagi memendam rasa ingin tahunya. Tak sanggup lagi menerka perasaan lelaki itu padanya. Hingga ia putuskan untuk berani menanyakannya langsung. Tahukah? Katanya lelaki itu hanya menganggapnya teman dekat. TEMAN. Hanya TEMAN
            Bak petir di pagi nan cerah, kenyataan itu sungguh mengguncangkan hati perempuan itu. “Jadi selama ini cinta saya bertepuk sebelah tangan?” tanyanya dalam hati.
“Jika iya, lantas mengapa kau begitu baik padaku? Perasaan cemburu yang dulu kau lontarkan, apakah itu juga termasuk perasaan yang kau tujukan pada seseorang yang hanya kau anggap teman?” Ada banyak pertanyaan yang berkecamuk dipikiran perempuan itu.
Bahkan saking perihnya kenyataan yang harus ia terima, ketika dikampus perempuan itu jatuh sakit. Iya. Fisik dan perasaannya sungguh sakit. Tak sanggup lagi ia emban.
            Namun keperihan itu tak berakhir disini. Entah mengapa perempuan itu masih menyimpan asa disudut jiwanya. Tanamkan saja hal baik, maka tentu kita akan menuai buah yang baik. Begitu menurutnya. Hal inilah yang selanjutnya menjadi kekuatan untuknya agar tetap bertahan.
            Beberapa hari setelahnya, perempuan itu kembali merasakan sakit yang teramat sangat. Ketika lelaki itu secara jelas mengatakan bahwa ia hanya mengganggap perempuan itu sebagai teman kepada salah seorang sahabat perempuan itu. Haruskah ia mengatakannya lagi?
            Hari-hari di masa itu dilewati perempuan itu dengan begitu berat. Air mata bukan lagi hal yang langka. Selama hampir seminggu perempuan itu terus meneteskan air mata, bahkan ketika di kelas dan kuliah berlangsung, ketika istirahat makan siang, ketika waktu luang menunggu jam kuliah, dimanapun dan kapanpun. Tak ada lagi malu yang tersisa. Dihadapan para sahabatnya ia terus saja menangis. Menangisi seseroang yang begitu dicintainya. Menangisi seseroang yang begitu ia inginkan dan ia harapkan.
            Sampai kapan? Bahkan setelah semua rasa sakit yang ia rasakan, hingga kini perempuan itu masih berharap. Meski ia tak lagi seperti dulu. Rasa sakit yang memuncak pada saat itu telah sedikit menegarkannya. Berusaha menyiapkan hatinya meski untuk kemungkinan terburuk sekalipun.
            Perempuan itu hanya mencintai lelaki itu. Hingga tak sekalipun ia melirik dan membuka hatinya untuk orang lain. Banyak cinta yang datang dan menawarkannya kebahagiaan, tapi toh ditolaknya. Perempuan itu hanya mencintai lelaki itu. Perempuan itu hanya menginginkan lelaki itu, bukan yang lain. Maka biarlah waktu yang membantu untuk menjawab segalanya. Akahkah perasaan perempuan itu terjaga ataukah terkikis oleh masa. Perempuan itu, hanya mengikuti kata hatinya.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar